Ahli Maksiat yang Hidupnya Makin Sukses
Oleh: @JonruGinting
Suatu hari, ada teman yang datang ke saya dan menyampaikan sesuatu.
“Saya heran,” ujarnya.
“Heran kenapa?”
“Saya kenal Pak Jonru sejak lama. Setahu saya, Pak Jonru orangnya baik banget, ikhlas dalam berjuang membela Islam. Tapi tiba-tiba dipolisikan. Hidup Pak Jonru pun belum bisa disebut kaya. Sedangkan si ANU, orang yang rajin memfitnah Pak Jonru, yang setahu saya selalu ingkar kepada Allah, kok hidup dia semakin sukses saja. Dia terlihat bahagia banget menjalani hidup ini. Kok bisa, ya? Kenapa bisa terbalik begini?”
Hehehe… Saya hanya tersenyum simpul.
“Sepertinya,” sahut saya, “ada satu hal yang belum saya ceritakan pada kamu.”
“Apa tuh?”
“Sejak ada yang mempolisikan saya, alhamdulillah saya justru semakin dekat kepada Allah. Hubungan saya dengan keluarga pun semakin baik plus harmonis. Saya semakin rajin bersilaturahmi dengan banyak orang, yang selama ini sering saya lupakan. Saya merasa bahwa Allah sedang menaikkan derajat hidup saya. Saya tiba-tiba sadar bahwa Allah sangat cinta pada saya. Mendapat ujian hidup seperti ini, alhamdulillah justru membuat hidup saya menjadi lebih dekat denganNya, juga lebih dekat dengan sesama manusia. Saya merasa bersyukur banget.
Adapun si ANU, tahukah kamu bahwa di dalam Islam ada istilah yang bernama Istidroj?”
“Istidroj? Apaan tuh?”
“Intinya, Istidroj adalah sebuah situasi di mana Allah tidak peduli sama sekali terhadap seseorang yang hidupnya penuh maksiat dan makin jauh dari agama. Allah biarkan orang tersebut mendapat banyak kesenangan duniawi, hidupnya makin sukses, semakin kaya, semakin terkenal, semakin dipuja-puja oleh banyak orang. Sehingga dia makin lupa diri, makin yakin bahwa dirinya berada di jalan yang benar. Dia pun terus melakukan maksiat, semakin jauh dari agama. Dan Allah pun tidak peduli lagi padanya. Allah membiarkan dia hidup sesuka-sukanya, semau dia.”
“Hm, gitu ya,” si teman manggut-manggut. “Alhamdulllah, saya jadi paham. Ternyata kedekatan dengan Allah dan dicintai olehNya merupakan anugerah yang jauh lebih berharga dibanding yang lain, ya?”
Saya tak perlu menjawab, karena si teman ini sudah menemukan jawabannya. (jonrufp/zak)
