Belajar Dari Sang Manager

oleh: Yana Nurliana

Saat Zidane ditunjuk jadi ‘manager lapangan’ baru real Madrid, gak sedikit yang mencemooh. Bahkan saat tugas pertama Zidane sebagai pelatih berujung kemenangan, haters menyebut kemenangan itu ‘hanya kebetulan’. Bahkan saat akhirnya Madrid jadi juara Liga Champion nan bergengsi itu. Tetep juga haters gak berhenti komen.

Tapi biasa mah itu. Pencetak bintang, gak perlu banyak bicara. Dia cukup menciptakan bintang serta membungkam pembenci dengan prestasi. Itulah Zidane.

Di Indonesia ada Anang. Saat drama perceraian artis Krisdayanti dan Anang tersaji di berbagai media hiburan tanah air beberapa tahun silam, banyak yang memaki Anang. Apalagi di buku biografi KD, kemudian menyebut bahwa sang bintang pernah mengkonsumsi narkoba karena stress.

” Anang akan habis.. krn selama ini numpang hidup dan meng eksploitasi KD “. Begitu beberpa media gosip menulis, kemudian ditelan mentah netizen. Lalu jadi bahan hujatan haters.

Tapi lihat yang terjadi sekarang. Bolak balik KD memamerkan progres milyaran rekaman diluar negeri yang dibiayai suami kayanya, untuk membuktikan bahwa ia dapat eksis internasional, meski tanpa Anang. Tapi tetap saja, ia Senyap tertelan popularitas artis baru.

Lalu Anang apa kabar? Pada akhirnya Anang menunjukkan bahwa dialah pencetak bintang sebenarnya. Siapa yg kenal Syahrini dulu? Bolak balik artis ini ingin eksis. Bermula dari panggung dangdut kelas kampung, sampai album memakai bule sebagai bintang iklan. Lihat bagaimana Anang memolesnya. Siapa yang sekarang gak kenal Inchesss. Bahkan maju mundurnya aja bisa jadi duit.

Atau..Ashanti? Siapa dulu ashanti? Sekarang pembantu Ashanti aja bisa menghasilkan uang untuk endorse barang di Instagram.

Begitulah cara kerja pencetak “bintang”. Menjawab cibiran dgn “prestasi”. Tulisan ini gak bermuara pada standar benar atau salah. Haram atau Halal.

Saya jadi tertarik menulis tentang Prabowo. Politis? Iya. Saya cuma mau kasih tulisan ini sambil ngasih tau. Bahkan dalam dunia Politikpun selalu ada sosok dibelakang layar yang kerjanya menciptakan bintang.

Pilgub Jakarta kemaren, ada bekas ‘Bintang’ yg songong. Pindah ‘majikan’ karena ga puas ama manager yang membesarkannya. Membesarkan lelaki kota kecil yang tadinya bukan siapa-siapa. Sang Manager yang ditinggalkan kembali mengorbitkan Bintang baru. Dan alhamdulillah menghantam drama panjang pilgub dengan kemenangan. Membuat bekas bintang ini, menggigit 2 jarinya.

Kisah ‘pindah hatinya’ bintang yg dibesarkan oleh sang Manager di Bandung. Sepertinya akan terulang di Pemilihan Gubernur Jabar. Pria cerdas yg tadinya tak dikenal, di gembleng habis-habisan. Sampai akhirnya menjadi Walikota paling diidamkan di Indonesia. Ia tiba-tiba memilih pindah kapal plus pindah manager pula. Gak main-main sekapal dengan Penista agama.

Mati-matian dia menyebut dirinya gak haus kekuasaan. Makin ditertawakan karena gak sesuai dengan langkah politiknya yang tergesa gesa. Belakangan sang bintang agak sensi dan sering baper di sosmed. Salah gaul, salah kapal membuatnya jadi agak nyinyir dan kehilangan selera humornya yang dulu. Kayaknya, bintang baru dari manager lama akan menggantikannya.

Ehem3x