DPRD Peringatkan Potensi Krisis Air

Balikpapan – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Balikpapan memberikan peringatan serius terkait kondisi krisis air bersih yang melanda Kota Beriman. Para wakil rakyat menyoroti keterbatasan bahan baku air yang saat ini berada pada titik mengkhawatirkan. Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) masih bergantung sepenuhnya pada sumber yang sangat terbatas.

Saat ini, pemenuhan kebutuhan air warga hanya mengandalkan Waduk Manggar dan Waduk Teritip. Selain itu, PTMB memanfaatkan sumur dalam sebagai penopang cadangan air baku. Namun, kapasitas sumber-sumber tersebut belum mampu mengimbangi lonjakan permintaan dari masyarakat yang terus tumbuh pesat.

Wakil Ketua DPRD Kota Balikpapan, Budiono Sastro Prawiro, menilai masalah ini semakin rumit karena buruknya kondisi infrastruktur. Ia mengungkapkan fakta banyak jaringan pipa distribusi sudah termakan usia dan mengalami kerusakan parah. Kebocoran pipa di berbagai titik mengakibatkan hilangnya tekanan air secara signifikan sebelum sampai ke rumah pelanggan.

Kondisi pipa yang keropos ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi manajemen PTMB. Budiono mengingatkan agar perusahaan tidak hanya mengejar target penambahan sambungan baru tanpa memperbaiki sarana yang ada. Ia memandang langkah ekspansi yang dipaksakan justru akan memicu kegagalan distribusi yang lebih luas.

“Ekspansi layanan tanpa diiringi pembenahan jaringan justru berisiko menimbulkan masalah baru di kemudian hari. Secara bisnis memang Perusahaan ingin ada tambahan pelanggan. Tapi harus lihat kemampuan juga,” ujarnya, Rabu (08/04).

Budiono meminta pemerintah kota dan PTMB segera menyusun skala prioritas dalam perbaikan infrastruktur. Pipa-pipa tua harus segera mendapatkan penggantian secara bertahap namun masif. Menurutnya, percuma jika debit air ditambah tetapi jaringan distribusi masih bocor dan tidak efisien.

Efisiensi jaringan distribusi menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas aliran air ke seluruh wilayah. Masyarakat seringkali mengeluhkan air yang tidak mengalir meski pasokan di waduk dalam kondisi normal. Hal ini membuktikan masalah teknis pada jaringan pipa menjadi penghambat utama pelayanan publik.

“Kami ingin ada alokasi anggaran yang fokus pada revitalisasi aset pipa utama. Langkah ini bertujuan untuk menekan angka kehilangan air atau non-revenue water (NRW). Jangan lupa pelanggan di dataran tinggi masih sulit dapat air,” tambahnya. (man)