Disbun Kutim Gelar Sekolah Lapang, Target Kelompok Tani Sawit Kecamatan Kaliorang

KUTAI TIMUR – Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Kutai Timur menggelar sekolah lapang di Kecamatan Kaliorang. Selama dua hari, Kamis-Jum’at (1-2 Oktober 2026), dengan menggandeng narasumber dari Yayasan Pessat yang membidangi Budidaya Sawit, sekolah lapang ini menyasar kelompok tani sawit Bukit Tani yang ada di Desa Bukit Harapan, Kecamatan Kaliorang.
Kepala Bidang (Kabid) Penyuluhan Dinas Perkebunan Kutim, Muhammad Yusufsyah menyebutkan melalui sekolah lapang, para petani sawit ini diberikan pemahaman dan praktek lapangan tentang penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dalam perawatan kelapa sawit.
”Jadi para kelompok tani sawit ini diberikan pemahaman tentang penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dalam perawatan kelapa sawit, yakni berupa pedoman budidaya sawit yang baik untuk meningkatkan produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) secara optimal dan berkelanjutan,” sebut Yusuf.
Lanjutnya, narasumber menyampaikan bagaimana tahapan perawatan kelapa sawit sesuai dengan GAP (Good Agricultural Practices), mulai dari pemupukan yang tepat, pengendalian gulma serta pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kepala sawit.
”Dalam penerapan Good Agricultural Practices sebagai pedoman dalam budidaya sawit, para petani disampaikan tahapan demi tahapan perawatan kelapa sawit. Seperti pemupukan yang tepat, yakni pemupukan yang dilakukan sesuai dosis, jenis unsur hara dan waktu yang tepat. Begitu juga teknik pengendalian gulma, yaini dengan cara membersihkan piringan pohon dan jalur panen dari gulma secara manual atau menggunakan Herbisida terdaftar agar tidak merebut nutrisi tanaman. Tidak lupa juga terkait pengendalian hama dan penyakitnya, para petani sawit wajib memantau kebun secara rutin untuk mencegah serangan hama seperti ulat api atau penyakit seperti Ganoderma boninense menggunakan metode hayati atau fungisida yang tepat,” jelasnya.
Tidak sampai di situ, para petani sawit juga diajarkan bagaimana melakukan penunasan pelepah atau Pruning, serta pengelolaan pemanenan.
”Para petani juga diajarkan bagaimana melakukan penunasan pelepah (Pruning), yakni dengan cara memotong pelepah tua secukupnya dan menyisakan jumlah pelepah optimal per pohon, untuk melancarkan proses fotosintesis dan memudahkan panen TBS. Kemudian juga diajarkan teknik pengelolaan pemanenan, yakni bagaimana melakukan panen buah pada tingkat kematangan yang pas dengan alat standar dan tangkai buah dipotong pendek demi menjaga kualitas minyak sawit mentah (CPO),” ucapnya.
Tidak hanya peduli terhadap kualitas buah dan hasil panen, Dinas Perkebunan Kutim juga tidak lupa memberikan himbauan kepada para petani untuk tidak melakukan pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar.
”Kemudian di sela kegiatan sekolah lapang ini, tidak lupa kami juga memberikan himbauan kepada para petani sawit terkait larangan pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar. Kami meminta para petani menggunakan metode pembukaan lahan yang tidak menimbulkan risiko kebakaran dan dampak terhadap lingkungan, dengan mengacu pada ketentuan yang berlaku,” pungkasnya.(Adv/Kominfo/KK)
