Tak Terfokus Sawit, Disbun Kutim Juga Optimalkan Komoditas Kakao


KITAI TIMUR – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memiliki sejumlah komoditas tanaman perkebunan yang unggul. Tidak hanya berfokus pada perkebunan kelapa sawit, pemerintah Kutim melalui Dinas Perkebunan (Disbun) Kutim juga fokus pada pengembangan komoditas tanaman kakao. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kutim, Arif Nur Wahyuni saat ditemui wartawan usai pembukaan Lokakarya Penguatan Akses Petani Sawit Swadaya terhadap Program Peremajaan Sawit Rakyat di Hotel Royal Voktoria, Sangatta, Kamis (3/9/2026).

Dikatakan, tidak hanya berfokus pada pengelolaan sawit mandiri milik rakyat, Dinas Perkebunan Kutim juga terus memberikan perhatian kepada pengembangan komoditas tanaman kakao. Saat ini sejumlah kecamatan di Kutai Timur diketahui menjadi sentra pengembangan komoditas kakao. Seperti di Kecamatan Karangan, Kecamatan Kaubun, Kecamatan Busang dan juga Kecamatan Teluk Pandan.

”Untuk komoditas tanaman kakao sendiri, saat ini sejumlah lokasi di beberapa kecamatan di Kutim memang menjadi sentra pengembangan tanaman kakao. Seperti di Kecamatan Karangan, Kecamatan Kaubun, Kecamatan Busang dan juga Kecamatan Teluk Pandan. Jadi komoditas kakao ini juga merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan Kutai Timur,” ujar Arif.

Lanjutnya, pengembangan kakao di Kutai Timur cukup menjanjikan. Tidak hanya bididaya tanaman, Disbun Kutim juga mengedepankan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) para petani kakao. Seperti di Kecamatan Karangan, tepatnya di Desa Karangan Ilir. Sejumlah kelompak tani kakao di desa ini sudah mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) pengelolaan budidaya kakao di Kota Bandung, Jawa Barat. Bahkan usai mengikuti Bimtek, kemudian ditindaklanjuti dengan pengiriman 2 ton kakao fermentasi.

”Seperti di Desa Karangan Ilir, Kecamatan Karangan, petani kakao sudah mengikuti Bimtek (Bimbingan Teknis) di Bandung dan sudah ditindak lanjuti dengan pengiriman 2 ton untuk kakao fermentasi. Di tahun ini juga kami akan melakukan sekolah lapang untuk di Kecamatan Busang, khusus untuk mensupport komoditas kakao di sana. Jadi tidak hanya kita perhatikan pengelolaan budidaya tamanan saja, tetapi harus ada peningkatan SDM bagi petani kakao itu sendiri,” ucap Arif.

Pemerintah Kutim juga terus melakukan promosi untuk memperkenalkan komoditas kakao Kutai Timur dan produk olahannya, baik dengan promosi berskala nasional bahkan internasional.

”Selain itu, saat pameran APKASI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia) Tahun 2026 belum lama ini, kita juga telah menandatangai dua nota kesepakatan kerjasama pemesanan sebesar 30 kilogram kakao, sebagai contoh untuk kakao fermentasi yang kemarin kami ajukan dari Kecamatan Teluk Pandan,” jelasnya.

Beberapa produk olahan kakao di Kutai Timur, saat ini juga sudah memiliki merek dagang dan telah menembus pasar lokal dan nasional. Seperti produk plahan kakao dari Desa Pengadan Baru di Kecamatan Kaubun yang memiliki produk olahan Kakao dengan merek dagang Kakaomantan.

”Untuk di Desa Pengadan Baru Kecamatan Kaubun, yakni produk olahan kakao dengan merek dagang Kakaomantan. Produknya sudah ada di beberapa outlet lokal dan juga disebar ke beberapa outlet pemasaran, seperti bandara,” ujarnya.(Adv/Kominfo/KK)