BPBD Dorong Penguatan Mitigasi Bencana

Balikpapan – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan memastikan mitigasi bencana menjadi perhatian bersama. Langkah ini menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak yang timbul saat bencana terjadi. Pemerintah menilai, kesiapsiagaan tidak bisa dilakukan secara spontan. Melainkan harus dibangun melalui sistem yang terencana dan berkelanjutan.

Kepala BPBD Kota Balikpapan, Usman Ali mengatakan mitigasi merupakan tahap paling vital dalam siklus penanggulangan bencana. Di mana kesiap-siagaan yang baik akan menentukan seberapa cepat dan efektif masyarakat bisa bertahan serta pulih dari bencana. Karena itu pemerintah menegaskan pentingnya mitigasi bencana sebagai langkah awal meminimalkan risiko.

“Mitigasi itu harus dimulai sejak dini. Karena ketika bencana datang, kita sudah memiliki kesiapan dari sisi infrastruktur maupun sumber daya manusia untuk meminimalkan risiko,” ujarnya, Kamis (06/11).

Usman menjelaskan, strategi mitigasi yang diterapkan BPBD Balikpapan mencakup tigak hal. Yakni pembangunan infrastruktur yang aman dan tahan bencana, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) serta penyusunan program edukasi kesiapsiagaan masyarakat di berbagai wilayah. Ketiganya menjadi upaya mitigasi awal pengurangan risiko bencana.

“Kami tidak hanya fokus pada penanganan setelah bencana. Tapi juga memperkuat sistem pencegahan dan kesiapsiagaan di semua level. Mitigasi yang baik bisa menyelamatkan banyak nyawa,” jelasnya.

BPBD, menurut Usman, terus menggandeng berbagai pihak. Mulai dari instansi pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, hingga kelompok masyarakat untuk membangun budaya sadar bencana. Program pelatihan simulasi tanggap darurat, sosialisasi jalur evakuasi dan edukasi penggunaan alat keselamatan menjadi bagian dari agenda rutin BPBD di tingkat kelurahan.

“Kami ingin masyarakat memahami kesiapsiagaan bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama. Kalau semua siap, dampaknya pasti lebih ringan. Makanya edukasi masyarakat menjadi penting agar lebih siap menghadapi bencana,” tuturnya.

Usman menambahkan, tantangan terbesar dalam mitigasi bencana adalah membangun kesadaran publik secara konsisten. Banyak masyarakat masih beranggapan bahwa bencana adalah hal yang tidak bisa dihindari, padahal dampaknya bisa diminimalkan jika dilakukan langkah preventif sejak awal.

“Kami ingin ubah pola pikir masyarakat. Mitigasi bukan sekadar teori, tapi tindakan nyata seperti menjaga drainase, tidak membuang sampah sembarangan, atau memperkuat bangunan sesuai standar keamanan,” pungkasnya. (man)