DLH Dorong Ekonomi Sirkular Lewat 3R
Balikpapan – Pemerintah Kota Balikpapan semakin serius menggalakkan pendekatan Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) sebagai strategi utama pengelolaan sampah. Kebijakan ini tidak hanya bertujuan mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga mendorong terciptanya kesadaran kolektif dan peluang ekonomi berbasis lingkungan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, mengatakan penerapan prinsip 3R dapat membuka jalan menuju pola hidup yang lebih bertanggung jawab dan produktif secara ekonomi. “Kami melihat 3R sebagai peluang. Selain mengurangi sampah, warga juga bisa menciptakan nilai tambah dari limbah yang sebelumnya dianggap tak berguna,” ujarnya, Selasa (27/05).
Kesuksesan program ini, lanjut Sudirman, bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat. “Perubahan tidak bisa hanya datang dari pemerintah. Warga harus jadi pelaku utama. Kalau pola pikir masyarakat berubah, maka pengelolaan sampah pun akan lebih mudah,” jelasnya.
Menurut Sudirman, langkah ini juga sejalan dengan arahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang melarang perluasan TPA mulai tahun 2026. Otomatis kebijakan ini berdampak pada semua kabupaten-kota di Indonesia termasuk Balikpapan. Di mana pemerintah daerah wajib mencari solusi kreatif dan berkelanjutan untuk mengelola sampah.
Salah satunya melalui perluasan cakupan program 3R yang sebelumnya hanya terbatas di beberapa wilayah percontohan. DLH menargetkan setiap kecamatan memiliki bank sampah dan pusat daur ulang mandiri. “Kami ingin setiap warga merasa memiliki peran. Lewat program edukasi dan pendampingan, kami harap partisipasi masyarakat makin besar,” tuturnya.
Dalam praktiknya, jelas Sudirman, gerakan 3R sudah melahirkan berbagai inisiatif lokal, seperti usaha daur ulang plastik, produksi kompos dari sampah organik, hingga kerajinan tangan dari limbah rumah tangga. Inisiatif-inisiatif ini tak hanya membantu lingkungan, tetapi juga menciptakan pendapatan tambahan bagi warga.
Bahkan DLH juga menggandeng sekolah dan komunitas pemuda untuk memperkuat literasi lingkungan. Sudirman meyakini generasi muda memegang peran penting dalam perubahan jangka panjang. Apalagi kota ini terus melangkah menuju kota ramah lingkungan yang tak hanya bersih, tetapi juga berdaya secara sosial dan ekonomi. “Anak-anak muda lebih cepat tanggap terhadap isu lingkungan. Kalau mereka terlibat, gerakan ini akan berumur panjang,” tambahnya. (man)
