DLH Sebut 50% Bank Sampah Tidak Aktif
Balikpapan – Pemerintah Kota Balikpapan menempatkan warga sebagai motor penggerak utama dalam upaya menghidupkan kembali bank sampah. Program ini sempat lesu akibat pandemi Covid-19. Padahal kegiatan tersebut merupakan pendekatan partisipatif dari pemerintah dalam mendorong kolaborasi antara masyarakat, RT dan tenaga kebersihan di tingkat kelurahan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan, Sudirman Djayaleksana menyebutkan kota ini memiliki lebih dari 150 bank sampah sebelum pandemi. Semuanya berjalan cukup aktif melayani pengelolaan limbah rumah tangga. Namun, situasi berubah drastis saat pandemi hingga sekarang.
“Sekarang hanya sekitar 77 unit yang masih berjalan. Jumlah itu kami nilai belum cukup untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah di Balikpapan. Kan volume sampah sebanding dengan pertambahan jumlah penduduk,” ujarnya, Senin (26/05).
Untuk itu, lanjut Sudirman, pihaknya berupaya menggencarkan program revitalisasi bank sampah dengan strategi berbasis komunitas. Cara tersebut dengan melibatkan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), RT dan Tenaga Kebersihan Kelurahan (TKK) untuk memperkuat gerakan dari bawah.
“Kami bantu semua yang dibutuhkan, mulai dari pelatihan teknis, pembentukan struktur organisasi, hingga penyediaan peralatan. Tapi kuncinya tetap pada kemauan warga. Karenanya kita perlu kolaborasi sejak dari tingkat rumah tangga,” jelasnya.
Menurut Sudirman DLH juga menggunakan pendekatan edukatif untuk mendorong perubahan budaya membuang sampah. Ia menekankan pentingnya keberlanjutan dalam pengelolaan bank sampah. Karena itu DLH menargetkan agar setiap unit memiliki sistem manajemen sederhana, transparan dan terkoneksi dengan mitra daur ulang.
“Kami ingin masyarakat melihat sampah sebagai potensi bukan beban. Bank sampah juga jangan hanya jadi program musiman. Kami ingin ini jadi bagian dari sistem ekonomi lokal. Kalau sudah jadi budaya kan bagus untuk tata kelola sampah,” tuturnya.
Sudirman mengakui pengelolaan sampah berbasis bank sampah tidak hanya memberi dampak lingkungan. Tapi juga menciptakan peluang ekonomi baru di tengah masyarakat. Maka pemerintah menjalin komunikasi dengan pelaku usaha daur ulang dan lembaga perbankan yang tertarik mendukung bank sampah sebagai bentuk tanggung jawab sosial.
“Kami sedang jajaki kerja sama agar hasil pengumpulan sampah bisa langsung masuk ke rekening warga. Ini akan membuat sistem lebih efisien dan menarik,” tambahnya. (man)
