DPRD Ajak Warga Manfaatkan Air Hujan
Balikpapan – Komisi II DPRD Kota Balikpapan mengusulkan langkah inovatif untuk memperkuat ketahanan air di tingkat rumah tangga. Para wakil rakyat mendorong masyarakat mulai menerapkan sistem pemanenan air hujan sebagai solusi praktis menghadapi potensi krisis air baku. Strategi ini menjadi sangat relevan mengingat fenomena El Nino diprediksi akan melanda wilayah Indonesia, termasuk Kota Minyak, pada periode April hingga Oktober 2026.
Sekretaris Komisi II DPRD Balikpapan, Taufik Qul Rahman, memandang air hujan sebagai aset berharga yang sering terabaikan. Menurutnya, pemanfaatan air hujan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat sepenuhnya pada suplai air perpipaan. Hal ini menjadi jaring pengaman efektif ketika distribusi air mengalami gangguan teknis atau saat debit waduk menyusut akibat kemarau panjang.
Taufik menilai pola pikir masyarakat dalam mengelola air hujan harus segera berubah. Alih-alih membiarkan air mengalir begitu saja ke selokan, warga sebaiknya mulai menyimpannya untuk kebutuhan non-konsumsi seperti mencuci, menyiram tanaman, atau membersihkan lingkungan. Langkah sederhana ini dapat menghemat cadangan air bersih di instalasi pengolahan milik pemerintah.
“Di tengah El Nino, kami mengajak masyarakat untuk memanfaatkan air hujan. Jangan langsung dibuang, tapi ditampung di tandon sebagai cadangan,” ujarnya, Rabu (15/04).
Taufik menyebut kemandirian air di level rumah tangga akan sangat membantu beban kerja Perumda Tirta Manggar Balikpapan (PTMB). Selama periode El Nino, kapasitas produksi air baku biasanya menurun drastis seiring berkurangnya intensitas hujan yang mengisi waduk. Dengan memiliki cadangan mandiri, warga tidak akan terlalu terdampak jika terjadi kebijakan penggiliran distribusi air.
Taufik juga menyoroti aspek efisiensi biaya yang bisa dinikmati warga. Penggunaan air hujan untuk kebutuhan harian secara otomatis akan menekan angka tagihan air bulanan masyarakat. Ia berharap budaya memanen air hujan ini menjadi gaya hidup baru bagi warga Balikpapan, bukan sekadar respons sesaat terhadap cuaca ekstrem.
“Pemanfaatan air hujan ini adalah solusi sederhana namun sangat efektif. Warga bisa menghemat biaya sekaligus memiliki cadangan saat debit air sedang menurun,” lanjutnya.
Taufik berharap pemerintah melakukan sosialisasi lebih masif mengenai cara penampungan air hujan yang higienis dan aman. Termasuk tetap menutup rapat wadah penampungan agar tidak menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk. Edukasi mengenai filter sederhana juga akan didorong agar air hujan yang tertampung tetap jernih dan layak guna. (ibn)
