DPRD Kaji Konsep Aglomerasi Sampah

Balikpapan – Komisi III DPRD Kota Balikpapan mulai menyusun strategi untuk memperkuat ketahanan energi melalui proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Legislator kini mengkaji serius konsep aglomerasi Balikpapan Raya guna menjamin ketersediaan bahan baku pembangkit tersebut.

Konsep kerja sama kawasan ini melibatkan wilayah tetangga seperti Samboja dan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Langkah ini bertujuan untuk mengintegrasikan sistem pengelolaan sampah lintas wilayah secara modern dan terpadu.

Ketua Komisi III DPRD Balikpapan, Yusri menjelaskan pasokan sampah internal Balikpapan belum mencapai titik ideal. Saat ini, produksi sampah kota hanya menyentuh angka 500 hingga 600 ton per hari. Padahal, mesin PSEL membutuhkan volume yang jauh lebih besar agar operasionalnya berjalan maksimal dan efisien.

“Kami sedang mengkaji kerja sama aglomerasi dengan IKN dan Samboja. Kita butuh tambahan pasokan sampah agar mesin PSEL bekerja optimal dan berkelanjutan,” ujarnya, Selasa (21/04).

Yusri menilai kolaborasi ini akan saling menguntungkan bagi seluruh wilayah terlibat. Balikpapan mendapatkan kepastian stok sampah sebagai bahan bakar listrik, sementara IKN dan Samboja memperoleh solusi pembuangan limbah yang ramah lingkungan. Skema ini sekaligus mempertegas posisi Balikpapan sebagai beranda utama pendukung infrastruktur IKN.

Pihak legislatif mendorong pemerintah kota segera menjalin komunikasi intensif dengan pengelola IKN dan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Sinergi ini merupakan langkah antisipatif untuk mencegah penumpukan sampah di masa depan akibat lonjakan populasi di kawasan penyangga.

“Volume 600 ton itu masih kurang untuk skala industri PSEL. Melalui aglomerasi ini, kita tidak hanya mengolah sampah Balikpapan, tapi juga membersihkan kawasan sekitar secara bersama-sama,” tuturnya lagi.

Menurut Yusri penerapan teknologi PSEL membutuhkan kestabilan pasokan agar turbin penghasil listrik tidak berhenti beroperasi. Dengan bergabungnya pasokan dari Samboja dan IKN, kapasitas olah harian akan meningkat drastis. Hal ini diharapkan mampu menarik minat investor besar untuk menanamkan modalnya di Balikpapan.

“Kami ingin sistem ini menjadi percontohan nasional. Sampah dari wilayah aglomerasi akan berakhir menjadi cahaya listrik bagi warga,” pungkasnya. (san)