Kemarau Panjang Tekan Warga Martadinata, Harga Air Tandon Ikut Naik

KUTAI TIMUR – Musim kemarau turut mengubah pola pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat Desa Martadinata, Kecamatan Teluk Pandan, Kutai Timur. Keterbatasan sumber air membuat warga semakin bergantung pada pasokan air yang dibeli.
Kepala Desa Martadinata, Sustrisno, mengatakan kondisi kekeringan tidak hanya dirasakan kelompok petani. Hampir seluruh masyarakat ikut menghadapi persoalan serupa karena sumber air di wilayah desa semakin terbatas.
“Sekarang kebutuhan air menjadi beban yang cukup terasa bagi masyarakat. Saat sumber air mengering, warga harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Sustrisno.
Ia menjelaskan, sebelum kemarau berlangsung cukup panjang, satu tandon air dengan harga sekitar Rp90 ribu masih dapat digunakan dalam waktu relatif lama. Namun, kondisi berubah ketika ketersediaan air semakin sulit.
Saat ini, harga air yang dibeli masyarakat disebut telah mencapai sekitar Rp120 ribu per tandon. Kenaikan tersebut menambah pengeluaran rumah tangga, terutama bagi warga yang tidak memiliki sumber air alternatif.
Kondisi pertanian juga ikut terdampak. Aktivitas penyiraman menjadi lebih sulit karena ketersediaan air tidak mencukupi.
Sustrisno menyebut desa sebelumnya telah memiliki pengalaman pembangunan sumur bor. Saat musim hujan, sumber tersebut masih dapat dimanfaatkan. Namun ketika kemarau panjang datang, kondisi lapangan menunjukkan keterbatasan sumber air bawah tanah.
“Persoalan air ini baru benar-benar terlihat ketika kemarau panjang. Sumber yang sebelumnya bisa digunakan ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan ketika kondisi sangat kering,” jelasnya.
Ia berharap persoalan tersebut dapat mendapat perhatian melalui perluasan layanan air bersih sehingga masyarakat tidak terus bergantung pada pembelian air setiap kali kemarau berlangsung.(Adv/Kominfo/KK)
