Kutim Dapat Drone Pertanian, Operator Terlatih Masih Disiapkan

Kutai Timur – Pemanfaatan teknologi mulai masuk dalam dukungan kegiatan pertanian di Kutai Timur (Kutim). Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim menerima satu unit drone yang nantinya dapat digunakan untuk membantu pekerjaan petani di lahan.
Plt Kepala DTPHP Kutim, Purno Edi, menyebut perangkat tersebut dapat dimanfaatkan untuk sejumlah kegiatan yang selama ini membutuhkan tenaga di lapangan. Kehadirannya diharapkan membuka penggunaan teknologi yang lebih praktis dalam pengelolaan tanaman.
Drone tersebut dapat digunakan untuk membantu pengendalian hama pada tanaman. Selain itu, perangkat juga bisa dimanfaatkan dalam kegiatan pemupukan, sehingga aplikasi di lahan dapat dilakukan dengan dukungan teknologi udara.
Namun, pemanfaatan drone belum dapat dilakukan secara maksimal tanpa tenaga yang memiliki kemampuan khusus. DTPHP masih perlu menyiapkan operator yang memahami pengoperasian perangkat serta aspek teknis penggunaannya di lahan pertanian.
Purno menyampaikan kebutuhan tenaga terlatih menjadi perhatian setelah bantuan drone diterima. Operator atau pilot harus memiliki kemampuan yang sesuai agar perangkat dapat digunakan secara aman dan tepat untuk kebutuhan pertanian.
“Drone kita dapat satu, tapi itu memang masih kita butuh pilotnya,” ujar Purno Edi.
DTPHP juga menunggu dukungan pelatihan dari pemerintah pusat. Jika pelatihan tersebut tersedia, calon operator dari daerah akan diikutkan untuk memperoleh keterampilan yang diperlukan sebelum menjalankan perangkat secara mandiri.
Menurut Purno, keberadaan operator terlatih nantinya akan membuat drone lebih mudah dimanfaatkan kelompok tani. Fasilitas tersebut dapat digunakan ketika petani membutuhkan bantuan untuk pengendalian hama maupun pemupukan di lahan mereka.
“Nanti kalau dari pusat menyiapkan tenaga pelatih, kita akan ikutkan peserta-peserta yang calon memegang drone itu,” katanya.
Setelah kesiapan sumber daya manusia terpenuhi, DTPHP berharap drone dapat menjadi fasilitas pendukung yang bisa dimanfaatkan kelompok tani sesuai kebutuhan. Teknologi tersebut diarahkan untuk membantu pekerjaan pertanian tanpa mengabaikan kebutuhan tenaga teknis yang mampu mengoperasikannya.(Adv/Kominfo/KK)
