Disdikbud Kutim Sebut Persoalan ATS Bukan Semata Anak Putus Sekolah

KUTAI TIMUR – Persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kutai Timur (Kutim) ternyata tidak sesederhana angka yang muncul dalam sistem pendataan. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim menilai akurasi data menjadi salah satu pekerjaan penting sebelum pemerintah menentukan bentuk penanganan terhadap anak-anak yang tercatat sebagai ATS.

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, mengatakan dinamika data membuat jumlah ATS dapat berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, pemerintah terus melakukan verifikasi dan validasi untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan.

“ATS kan fluktuatif ya, berubah-ubah terus,” kata Mulyono.

Menurutnya, persoalan muncul ketika data yang berasal dari sistem belum sepenuhnya menggambarkan kondisi faktual. Anak yang sebenarnya sudah berada di sekolah dapat saja masih tercatat dalam data ATS apabila perubahan status pendidikannya belum terbarui.

Mulyono bahkan menyebut persoalan ketidakvalidan data menjadi salah satu faktor yang harus diselesaikan dalam penanganan ATS.

“Data di luar oleh kementerian kan banyak sekali, lebih dari 50 persen data itu enggak valid,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi alasan bagi Disdikbud Kutim untuk memperkuat proses pemutakhiran. Pemerintah daerah melibatkan PKK desa, RT, OPD terkait serta operator desa agar keberadaan dan status anak dapat diperiksa secara lebih dekat.

Bagi pemerintah daerah, ketepatan data sangat menentukan efektivitas program. Data yang akurat memungkinkan intervensi diarahkan kepada anak yang benar-benar membutuhkan layanan pendidikan, bukan sekadar mengejar penurunan angka administratif.

Setelah proses pemutakhiran selesai, Disdikbud akan memilah penanganan berdasarkan usia dan kondisi anak. Mereka yang masih berada dalam usia sekolah akan didorong kembali ke sekolah, sedangkan yang sudah melewati usia sekolah diarahkan melalui pendidikan nonformal.

Dengan pendekatan tersebut, persoalan ATS di Kutim diarahkan menjadi persoalan layanan pendidikan yang harus ditangani secara faktual, bukan sekadar persoalan statistik.(Adv/Kominfo/KK)