DP3AKB Perkuat Edukasi Dunia Digital

Balikpapan – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Balikpapan meyakini edukasi tidak cukup untuk melindungi anak dari bahaya siber. Kepala DP3AKB Balikpapan, Heria Prisni, menilai upaya peningkatan literasi digital harus dibarengi dengan perlindungan hukum yang konkret dan penegakan aturan yang tegas.

“Edukasi dan kesadaran kolektif memang menjadi benteng pertama yang kokoh dalam menghadapi kejahatan digital. Namun, tanpa sistem hukum yang kuat dan menjerakan, seluruh upaya itu akan mudah runtuh,” ujarnya, Rabu (23/07).

Heria menyoroti semakin tingginya paparan anak-anak terhadap internet, sementara sistem perlindungan digital di Indonesia dinilai belum optimal. Banyak pelaku kejahatan siber, terutama yang menyasar anak, masih lolos dari jerat hukum atau hanya mendapat sanksi ringan. Situasi ini, bisa menimbulkan celah serius yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku.

“Anak-anak adalah aset masa depan bangsa. Negara wajib hadir bukan hanya dengan nasihat moral, tetapi juga dengan ketegasan hukum. Jangan beri ruang bagi pelaku kejahatan digital untuk merasa aman,” jelasnya.

DP3AKB di Balikpapan, lanjut Heria telah menjalankan sejumlah program edukasi yang menyasar keluarga, sekolah dan komunitas. Namun dirinya menyadari, peran lembaganya terbatas jika negara tidak memperkuat aspek regulasi dan penindakan hukum terhadap pelanggaran digital yang berdampak pada anak.

Heria menyebut pemerintah pusat, aparat penegak hukum dan masyarakat harus bersinergi untuk menciptakan ekosistem digital yang aman. Kolaborasi lintas sektor dibutuhkan untuk mengawal ruang digital dari konten berbahaya, eksploitasi anak hingga praktik penipuan yang menyasar kelompok rentan.

“DP3AKB tidak bisa bekerja sendiri. Kami membutuhkan dukungan konkret dari pemerintah pusat dalam bentuk regulasi yang jelas, serta tindakan cepat dari aparat hukum terhadap setiap pelanggaran,” tuturnya lagi.

Menurut Heria keterlibatan aktif orang tua memegang peranan penting. Maka pihaknya menggencarkan edukasi internet positif dengan melibatkan semua pihak. Agar anak-anak memiliki bekal pemahaman kuat tentang bahaya internet. Bukan dibiarkan menjelajahi dunia maya tanpa pengawasan.

“Kami berkomitmen memberikan edukasi. Tapi orang tua tetap menjadi pelindung utama di rumah. Anak-anak perlu pendampingan, bukan hanya diberi gawai lalu dibiarkan. Makanya kita perlu sinergi tidak bisa hanya pemerintah,” tambahnya. (man)