Kesbangpol Ingatkan Pentingnya Wawasan Kebangsaan
Balikpapan – Pemerintah Kota Balikpapan menegaskan pentingnya wawasan kebangsaan sebagai filter utama dalam menghadapi maraknya informasi yang simpang siur di era digital. Hal itu akan menjadikan masyarakat semakin tangguh menghadapi dinamika informasi digital tanpa kehilangan jati diri kebangsaan.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Balikpapan, Sutadi, mengatakan masyarakat saat ini hidup dalam lingkungan informasi yang bising dan sering kali menyesatkan. Ia menilai tidak semua informasi yang beredar di ruang digital layak dipercaya. Karena itu, literasi digital tidak cukup jika tidak disertai dengan pemahaman nilai-nilai kebangsaan.
“Di era digital, semua orang bisa bicara, tapi tak semua yang terdengar itu benar. Kita harus membekali masyarakat dengan wawasan kebangsaan agar mereka tidak sekadar cerdas mengakses informasi, tapi juga bijak menyaringnya,” ujarnya, Selasa (29/07).
Sutadi menggarisbawahi perlunya pelatihan deteksi dini di kalangan masyarakat. Terutama dalam merespons potensi konflik sosial dan penyebaran hoaks yang bisa memicu perpecahan. Otomatis Kesbangpol tidak hanya fokus pada pengawasan politik. Tetapi juga mengambil langkah aktif dalam memperkuat ketahanan ideologis masyarakat.
“Langkah deteksi dini tidak bisa sekadar pakai firasat. Kita butuh data, observasi yang objektif, validasi informasi dan pelaporan yang terstruktur. Semua itu harus berpijak pada ketenangan berpikir dan wawasan kebangsaan sebagai fondasi,” lanjutnya.
Untuk itu, lanjut Sutadi, pihaknya ingin terus memperkuat literasi kebangsaan sebagai daya tahan masyarakat. Khususnya terhadap provokasi berbasis isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Di mana saat pemilu serentak lalu, ia meminta tokoh masyarakat, perangkat RT dan generasi muda ikut berperan sebagai penjaga harmoni.
“Kita harus menumbuhkan kesadaran bahwa bangsa ini besar karena keberagamannya. Kalau masyarakat punya filter ideologis yang kuat, maka berita palsu, ujaran kebencian, dan provokasi tidak akan mudah merusak,” tuturnya lagi.
Sutadi berharap wawasan kebangsaan bukan sekadar pengetahuan hafalan. Melainkan cara berpikir dan bersikap dalam kehidupan sosial yang plural. Sehingga masyarakat mampu menghadapi banjir informasi di media sosial yang sering kali tidak bisa dibedakan antara fakta dan opini.
“Kita perlu pelatihan lanjutan mengenai deteksi hoaks dan pemahaman nilai-nilai Pancasila secara aplikatif. Jadi perlu ada panduan yang praktis, bukan cuma teori. Bagaimana kami bisa mengidentifikasi berita bohong dan lainnya,” tambahnya. (man)
