Kesbangpol Petakan Potensi Konflik Berbasis Data

Balikpapan – Pemerintah Kota Balikpapan menegaskan pentingnya kewaspadaan sejak dini untuk mencegah potensi konflik sosial di tengah masyarakat. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Balikpapan, Sutadi, menyebut teknologi deteksi dini, kecerdasan buatan (AI), serta analisis data sosial mampu menjadi senjata efektif menjaga ketenangan kota.

“Kita tidak bisa menebak kapan konflik muncul, tetapi kita bisa memetakan potensi konflik. Dengan pemanfaatan teknologi, potensi itu bisa diidentifikasi lebih awal sehingga pemerintah dan masyarakat bisa melakukan langkah pencegahan,” ujarnya, Kamis (04/09).

Menurut Sutadi, langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya pemetaan konflik berbasis data demi menjaga stabilitas dan keamanan nasional. Pemerintah daerah, kata dia, harus menindak lanjuti arahan tersebut dengan serius karena konflik yang dibiarkan berlarut berpotensi merugikan masyarakat luas.

“Presiden sudah jelas mengingatkan agar semua daerah waspada. Jangan tunggu konflik membesar, baru sibuk memadamkan. Lebih baik kita intervensi sejak dini. Tentu dengan melibatkan semua pihak agar duduk bersama dan mencari solusi,” lanjutnya.

Untuk itu, lanjut Sutadi, Kesbangpol Balikpapan kini memperkuat sistem deteksi konflik dengan mengumpulkan data dari berbagai lapisan. Mulai dari laporan masyarakat, dinamika media sosial hingga hasil survei lapangan. Seluruh data kemudian dianalisis dengan dukungan teknologi AI untuk mengidentifikasi pola ketegangan yang bisa memicu perselisihan.

“Data itu tidak hanya kita simpan. Kita langsung petakan, lalu kita diskusikan bersama aparat keamanan, tokoh masyarakat, hingga organisasi kemasyarakatan agar ada langkah cepat. Kita ingin Balikpapan tetap kondusif,” jelasnya.

Sutadi juga menekankan bahwa deteksi dini tidak bisa berjalan tanpa partisipasi masyarakat. Maka ia mengajak warga untuk aktif melapor jika menemukan gejala konflik di lingkungan sekitar. Baik dalam bentuk perselisihan antar warga maupun isu sensitif yang beredar di media sosial. Agar kolaborasi ini menghasilkan deteksi dini dan pencegahan atas potensi konflik.

“Kita ajak warga agar jangan ragu melapor. Semua laporan akan kita tindaklanjuti dengan pendekatan dialog. Prinsip kita, jangan biarkan api kecil menjadi besar. Kan kalau sudah jadi konflik besar tentu merugikan semua,” tambahnya lagi. (man)