Pemkot Siapkan Strategi Pasokan MBG
Balikpapan – Pemerintah Kota Balikpapan bergerak cepat menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi lonjakan permintaan pangan. Khususnya ketika program Makanan Bergizi Gratis (MBG) mulai berjalan penuh pada 2026. Program nasional yang menyasar pelajar ini diproyeksikan akan dilaksanakan di 63 titik sekolah dengan total sekitar 135 ribu penerima manfaat di kota minyak.
Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo mengatakan pemerintah daerah tidak hanya fokus pada aspek distribusi program. Pihaknya juga harus memastikan ketersediaan bahan pangan lokal mencukupi. Ia mengingatkan, pelaksanaan MBG berpotensi meningkatkan konsumsi bahan pokok. Seperti beras, telur, ayam dan sayuran dalam jumlah besar secara bersamaan.
“Akan timbul masalah jika semua penerima manfaat MBG membeli bahan baku di pasar tanpa ada strategi penguatan pasokan. Pasar kita bisa kekurangan stok. Karena itu, kita harus siapkan rantai pasok dengan baik,” ujarnya, Sabtu (01/11).
Bagus menjelaskan, koordinasi lintas daerah menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasokan. Pemerintah Kota Balikpapan telah berkomunikasi dengan pemerintah kabupaten sekitar seperti Penajam Paser Utara (PPU) dan Paser yang selama ini menjadi pemasok utama bahan pangan ke Balikpapan. Kedua daerah itu memiliki potensi besar dalam mendukung kebutuhan bahan baku MBG.
“PPU bisa memperkuat pasokan beras, sementara Paser punya potensi besar untuk memasok ayam, telur dan sayuran. Kita ingin kerja sama ini berjalan konsisten agar kebutuhan MBG tidak membebani pasar lokal,” jelasnya.
Selain itu, menurut Bagus, Pemkot Balikpapan juga menyiapkan strategi penguatan rantai pasok pangan lokal dengan menggandeng pelaku usaha kecil, koperasi, serta kelompok tani. Pemerintah berencana membentuk sistem distribusi berbasis kerja sama langsung antara sekolah pelaksana MBG dengan penyedia bahan pangan.
“Kami ingin skema pasokannya efisien dan terukur. Jadi bahan baku tidak hanya bergantung pada pasar umum. Tapi juga disuplai langsung dari pelaku usaha dan petani lokal yang sudah kami bina. Meski mungkin belum signifikan,” tuturnya.
Langkah tersebut, tambah Bagus, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Balikpapan. Program MBG dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi lokal jika disinergikan dengan sektor pertanian, peternakan dan UMKM. Di mana pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan antara keberhasilan program sosial dan stabilitas ekonomi. (man)
