DPMPTSP Perluas Pelatihan Bahasa Isyarat untuk Tingkatkan Layanan Disabilitas

BALIKPAPAN – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Balikpapan memperluas pelatihan bahasa isyarat kepada petugas pelayanan publik. Langkah ini dilakukan untuk memastikan layanan pemerintahan dapat diakses seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

Kepala DPMPTSP Kota Balikpapan, Hasbullah Helmi, mengatakan pelatihan bahasa isyarat yang sebelumnya hanya menyasar pegawai internal kini diperluas dengan melibatkan petugas di Mal Pelayanan Publik (MPP) dan sejumlah petugas kecamatan.

“Jadi, hari ini kita melakukan pelatihan bahasa isyarat bagi petugas-petugas pelayanan, baik yang ada di kantor DPMPTSP maupun petugas-petugas yang ada di Mal Pelayanan Publik. Kita juga melibatkan petugas kecamatan,” kata Helmi, Rabu (26/8/2026).

Menurut Helmi, perluasan peserta menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik secara menyeluruh. Tidak hanya pegawai DPMPTSP, petugas dari sejumlah instansi daerah maupun instansi vertikal juga mulai dilibatkan dalam pelatihan tersebut.

“Intinya, kita memperluas pelatihan ini. Tadinya untuk internal pegawai DPMPTSP, tahun ini kami mencoba mengundang beberapa instansi, baik instansi di daerah maupun instansi vertikal,” ujarnya.

Ia menegaskan, peningkatan kemampuan petugas dalam berkomunikasi dengan penyandang disabilitas diperlukan agar masyarakat memperoleh pelayanan yang setara dan mudah diakses.

“Tujuannya adalah untuk lebih memaksimalkan dan mengoptimalkan pelayanan publik kita. Bukan hanya untuk warga Kota Balikpapan, tetapi juga untuk warga disabilitas. Kita ingin melayani secara maksimal dan memberikan yang terbaik bagi semua warga Kota Balikpapan,” katanya.

Helmi menjelaskan, DPMPTSP sebelumnya juga telah menyediakan fasilitas teknologi bagi penyandang tunanetra berupa komputer yang dilengkapi perangkat lunak pembaca layar NVDA (NonVisual Desktop Access). Fasilitas tersebut memungkinkan penyandang tunanetra mengakses layanan secara lebih mandiri.

“Di DPMPTSP kita sudah menyiapkan teknologi namanya NVDA, jadi PC komputer yang mengeluarkan suara. Ini bagi warga disabilitas yang tunanetra, sehingga bisa berpelayanan secara mandiri dengan menggunakan PC tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, pelayanan bagi kelompok disabilitas lainnya masih terus dikembangkan. Salah satunya melalui pelatihan bahasa isyarat yang difokuskan untuk meningkatkan kemampuan petugas dalam berkomunikasi dengan penyandang tunarungu.

“Nah, sementara untuk yang berkebutuhan khusus lainnya, itu kan kita belum melakukan sentuhan. Hari ini kita melakukan pelatihan bahasa isyarat untuk warga disabilitas yang tunarungu,” katanya.

Melalui pelatihan tersebut, petugas diharapkan dapat berkomunikasi lebih efektif dengan penyandang tunarungu, terutama dalam memahami kebutuhan mereka saat mengakses layanan pemerintahan.

“Supaya teman-teman nanti dalam melayani bisa melakukan komunikasi dengan mereka tentang kebutuhan pelayanan yang mereka butuhkan,” pungkas Helmi.

(Man)