Disdikbud Hadapi Kendala Distribusi MBG

Balikpapan – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Balikpapan terus berupaya menyempurnakan pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Meski masih menghadapi sejumlah kendala teknis di lapangan. Salah satunya, terkait jadwal distribusi makanan dari Satuan Penyedia Porsi Gizi (SPPG) yang belum sepenuhnya selaras dengan waktu istirahat di setiap jenjang sekolah.

Kepala Disdikbud Balikpapan, Irfan Taufik mengakui, masih ada SPPG yang melayani lebih dari satu jenjang pendidikan, seperti PAUD, SD dan SMP. Perbedaan waktu belajar dan istirahat di masing-masing sekolah menyebabkan keterlambatan pengantaran makanan. Akhirnya berdampak pada proses belajar mengajar.

“Kami menemukan ada SPPG menangani sekolah dari jenjang berbeda, sehingga waktu pengantaran tidak bisa serentak. Kondisi ini kadang menyebabkan keterlambatan dan memengaruhi kegiatan belajar siswa,” ujarnya, Selasa (11/11).

Irfan mengatakan, pihaknya terus melakukan evaluasi agar kendala tersebut bisa segera diatasi. Disdikbud bersama satuan pendidikan dan penyedia jasa makanan kini sedang menyesuaikan sistem distribusi agar lebih efektif dan sesuai kebutuhan di lapangan. Karena perbedaan jadwal ini bisa berpengaruh pada tingkat penyerapan MBG.

“Kami sedang mengatur ulang pembagian wilayah layanan agar pengantaran lebih tepat waktu. Prinsip kami, anak-anak harus menerima makanan bergizi tanpa mengganggu proses belajar mereka,” jelasnya.

Berdasarkan data terbaru, lanjut Irfan, program MBG di Balikpapan menyasar sekitar 142.000 penerima manfaat dari jenjang PAUD hingga SMA. Termasuk 8.063 peserta pendidikan non-formal yang belum sepenuhnya terlayani. Namun, tingkat penyerapan program masih relatif rendah. Yakni PAUD baru 4,3 persen, SD 17,8 persen dan SMP 28,6 persen.

“Angka ini menjadi catatan penting bagi kami. Kami ingin tingkat penyerapan meningkat seiring perbaikan sistem dan koordinasi di lapangan,” kata Irfan.

Menurut Irfan, perbedaan kondisi geografis dan jarak antar sekolah juga turut memengaruhi efektivitas pelaksanaan. Ada beberapa sekolah yang berlokasi jauh dari pusat kota sehingga membutuhkan waktu distribusi lebih lama. Disdikbud kini tengah memetakan ulang wilayah layanan berdasarkan jarak tempuh dan kapasitas penyedia gizi.

“Kami ingin SPPG ditempatkan secara proporsional agar distribusi berjalan lancar dan efisien. Prinsipnya, semua anak harus mendapat porsi yang sama, tepat waktu dan higienis,” tambahnya. (man)