Pemetaan Presisi Jadi Bekal Pekebun Sawit Kutim Kelola Lahan Lebih Terarah

KUTAI TIMUR – Pengelolaan perkebunan kelapa sawit semakin membutuhkan dukungan data dan pemahaman kondisi lahan yang lebih akurat. Bagi pekebun, kemampuan melakukan pemetaan secara presisi dapat menjadi bekal untuk mengenali batas lahan sekaligus membantu menata pengelolaan kebun secara lebih terarah.
Kabid Penyuluhan Dinas Perkebunan Kutai Timur (Kutim), Muhammad Yusuf Syah, mengatakan pemetaan presisi memberikan manfaat nyata bagi pekebun karena pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam pengelolaan perkebunan. Menurutnya, peningkatan kapasitas pekebun perlu mencakup penguasaan teknologi yang mendukung aktivitas di lapangan.
“Pemetaan presisi sangat bermanfaat, khususnya bagi perkebunan sawit. Pekebun tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang budidaya, tetapi juga edukasi yang bisa membantu mereka memahami lahannya dengan lebih baik,” ujar Yusuf Syah.

Ia menjelaskan, pemetaan dapat membantu pekebun memperoleh gambaran lebih jelas mengenai kondisi serta batas lahan yang dikelola. Informasi tersebut kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari penataan kebun dan mendukung pengelolaan yang lebih terukur.
“Kalau kondisi dan batas lahan bisa dipahami dengan baik, pekebun memiliki dasar yang lebih jelas dalam mengelola kebunnya. Ini menjadi bagian dari upaya kita meningkatkan kemampuan SDM perkebunan,” katanya.
Menurut Yusuf, peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM) pekebun tidak cukup hanya melalui pemberian materi. Pengetahuan yang telah diperoleh perlu diterapkan dan diperkuat melalui pendampingan agar keterampilan pemetaan benar-benar dapat digunakan sesuai kebutuhan di lapangan.
“Pelatihan jangan hanya berhenti pada materi. Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan itu bisa diterapkan oleh pekebun dan memberikan manfaat dalam pengelolaan kebun mereka,” jelasnya.
Penguatan kemampuan tersebut sebelumnya dilakukan melalui Pelatihan Teknik Pemetaan Lokasi Perkebunan Kelapa Sawit Angkatan I, II dan III yang dilaksanakan LPP Agro di Balikpapan pada 23 Juni 2026. Pelatihan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDM PKS) Tahun 2026 yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Dalam perkembangannya, penerapan hasil pelatihan turut dipantau melalui monitoring dan evaluasi bersama pekebun dan koperasi. Proses tersebut menjadi bagian dari pendampingan untuk melihat sejauh mana pengetahuan pemetaan dapat dimanfaatkan dalam aktivitas perkebunan.
Yusuf menilai edukasi mengenai pemetaan perlu berjalan beriringan dengan peningkatan pengetahuan budidaya. Dengan penguasaan teknologi yang semakin baik, pekebun diharapkan mampu mengelola lahan berdasarkan kondisi lapangan serta mendukung peningkatan produksi secara berkelanjutan.
“Harapannya, kemampuan yang sudah diperoleh ini terus dikembangkan. Jadi pekebun semakin memahami lahannya, semakin baik dalam mengelola kebun, dan pada akhirnya bisa mendukung produksi yang baik serta berkelanjutan,” pungkasnya.(Adv/Kominfo/KK)
