Disdag Fokus Stabilkan Harga Jelang Nataru

Balikpapan – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Perdagangan (Disdag) fokus menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan bahan pokok di pasaran. Meskipun kemampuan anggaran dinas menurun drastis tahun depan, pemerintah daerah tetap menempatkan pengendalian harga sebagai prioritas utama.

Kepala Dinas Perdagangan Balikpapan, Haemusri Umar mengatakan keterbatasan fiskal tidak akan mengganggu tugas pokok Disdag dalam menjaga keseimbangan pasar. Pihaknya terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan distributor serta pelaku usaha ritel untuk memastikan pasokan tetap aman.

“Walau anggaran terbatas, pengawasan terhadap ketersediaan bahan pokok dan energi harus tetap jalan. Ini menjadi bagian penting dari tugas kami, terutama dalam menjaga daya beli masyarakat menjelang akhir tahun,” ujarnya, Rabu (12/11).

Haemusri menjelaskan, menjelang akhir tahun biasanya terjadi kenaikan permintaan pangan dan energi. Lonjakan ini kerap memicu fluktuasi harga, terutama pada komoditas seperti beras, telur, daging ayam, cabai dan gas elpiji. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Disdag melakukan pengawasan harian di sejumlah pasar tradisional dan pusat perbelanjaan.

“Kami terus memantau harga dan stok bersama tim lintas instansi. Jika ditemukan indikasi kenaikan harga yang tidak wajar, kami segera lakukan langkah penyesuaian melalui koordinasi dengan distributor dan Bulog,” terangnya.

Menurut Haemusri selain pengawasan bahan pokok, Disdag juga memperkuat sinergi dengan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) serta Pertamina guna memastikan pasokan energi seperti LPG dan BBM tetap stabil menjelang puncak libur panjang. Hal itu menjadi bentuk antisipasi agar tidak terjadi aksi beli berlebihan.

Haemusri mengakui, salah satu tantangan utama di kota minyak adalah rantai pasokan pangan Balikpapan yang masih bergantung pada daerah lain. Karena itu, pengawasan terhadap distribusi barang menjadi hal krusial agar keterlambatan pasokan tidak memicu kelangkaan.

“Kita semua tahu sebagian besar bahan pangan kita masih bergantung pasokan dari luar daerah. Jadi yang penting bukan hanya stok di gudang, tapi juga kelancaran distribusinya. Kalau semua lancar berarti harga di pasaran tetap normal,” tambahnya. (man)