Balikpapan Siap Pertahankan KLA Utama
Balikpapan – Pemerintah Kota Balikpapan masih menghadapi tantangan besar dalam upaya mempertahankan predikat Kota Layak Anak (KLA) kategori utama. Pasalnya setiap pemegang status itu harus mampu menihilkan kasus kekerasan terhadap anak. Pemerintah setempat masih berupaya mengembangkan strategi perlindungan menyeluruh dengan melibatkan berbagai pihak.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Balikpapan, Heria Prisni, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak hanya berfokus pada pencapaian administratif semata. Namun lebih menekankan pada implementasi perlindungan nyata di lapangan.
“Untuk mempertahankan predikat KLA utama, kami harus memastikan tidak ada satu pun kasus kekerasan terhadap anak. Itu tantangan besar, tetapi bukan berarti tidak mungkin,” ujarnya, Senin (07/07).
Heria mengatakan kompleksitas tantangan justru datang dari dinamika sosial masyarakat yang terus berkembang. Alih-alih berfokus pada angka semata, Pemerintah Kota Balikpapan kini memilih pendekatan pencegahan berbasis keluarga dan komunitas. Heria menilai ketahanan keluarga menjadi kunci utama untuk menciptakan lingkungan aman dan nyaman bagi anak-anak.
“Kita berhadapan dengan realitas pertambahan penduduk. Mobilitas penduduk tinggi, banyak pendatang datang dan menetap. Ini tentu memperbesar risiko kerentanan pada anak. Kami tidak bisa bekerja sendiri, perlu peran serta masyarakat,” lanjutnya.
Menurut Heria DP3AKB bersama stakeholder terkait, telah menggulirkan sejumlah program edukasi dan pendampingan di berbagai kelurahan. Kegiatan ini menyasar orang tua, guru, tokoh masyarakat, hingga pelaku usaha untuk membangun kesadaran kolektif. Khususnya dalam pemahaman perlindungan anak yang menjadi tanggung jawab bersama.
“Kami sudah gelar pelatihan parenting, forum anak, dan kampanye stop kekerasan di sekolah. Anak-anak harus merasa aman, tidak hanya di rumah, tapi juga di lingkungan sekitar mereka. Ini yang jadi fokus perhatian kita,” tuturnya.
Heria menambahkan predikat KLA bukan sekadar penghargaan simbolik. Status tersebut mencerminkan seberapa serius suatu daerah melindungi masa depan warganya sejak dini. Untuk itu dirinya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Agar mampu mempertahankan status KLA utama yang sudah ada saat ini.
“Kalau kita ingin mencetak generasi unggul, kita wajib melindungi mereka sejak sekarang. Pemerintah akan terus hadir lewat kebijakan, fasilitas dan edukasi publik. Makanya perlu kolaborasi lintas sektor,” tambahnya. (man)
