Kesbangpol Dorong Pembentukan Forum Curhat

Balikpapan – Pemerintah Kota Balikpapan menegaskan keamanan sosial hanya bisa lahir ketika warga berani menyampaikan pendapat dan mendapat ruang untuk didengar. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Balikpapan, Sutadi, menyebut forum curhat, kotak aspirasi, hingga jaminan perlindungan pelapor menjadi cara efektif membangun ruang aman di setiap lingkungan.

“Keamanan sosial bukan sekadar patroli atau pengawasan aparat. Dasarnya adalah keberanian warga untuk bicara dan kepastian bahwa suara mereka didengar. Kalau aspirasi dibungkam, potensi ancaman justru makin besar,” ujarnya, Rabu (17/09).

Sutadi menyebut Kesbangpol saat ini mendorong pembentukan forum curhat di tingkat RT dan kelurahan. Forum itu membuka kesempatan bagi warga untuk menyampaikan keresahan tanpa takut mendapat tekanan. Selain itu, kotak aspirasi ditempatkan di titik strategis agar masyarakat lebih mudah menyampaikan masukan.

“Kami ingin menciptakan budaya saling mendengar. Warga punya hak menyampaikan kegelisahan, sementara pemerintah berkewajiban merespons. Dengan begitu, kerukunan tetap terjaga,” ucapnya.

Menurut Sutadi, perlindungan terhadap pelapor juga penting. Ia menekankan bahwa siapa pun yang menyampaikan informasi atau keluhan tidak boleh mendapat intimidasi. Kesbangpol juga melibatkan tokoh masyarakat dan pemuda sebagai mitra dalam menjaga ruang aman. Peran mereka dianggap penting untuk menjembatani aspirasi warga yang mungkin enggan langsung menyampaikan ke pemerintah.

“Kalau pelapor tidak merasa aman, mereka memilih diam. Padahal diam bisa menjadi pintu masuk konflik. Maka, jaminan perlindungan harus hadir nyata. Tokoh masyarakat bisa menjadi telinga pertama. Mereka lebih dekat dengan warga, sehingga bisa menyalurkan aspirasi secara cepat dan tepat,” jelasnya.

Untuk itu, lanjut Sutadi, pihaknya meminta warga memberikan dukungan terhadap program forum curhat. Karena langkah ini memberi peluang generasi muda untuk terlibat menjaga lingkungan. Bahkan membuat mereka lebih leluasa menyampaikan ide dan sarannya. “Biasanya kalau ada sesi curhat suasananya lebih cair. Anak-anak muda biasanya punya masalah sendiri. Seperti soal keamanan malam atau aktivitas sosial,” tuturnya lagi.

Sutadi menambahkan penguatan ruang aman di lingkungan bukan sekadar program formal, melainkan investasi sosial jangka panjang. Ia percaya kota yang damai lahir dari masyarakat yang terbiasa berdialog.

“Kalau warga terbuka, pemerintah responsif, dan semua pihak saling mendengar, tidak ada celah konflik berkembang. Itulah kunci menjaga Balikpapan tetap kondusif,” pungkasnya. (man)