Kesbangpol Terus Perkuat Literasi Digital

Balikpapan – Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Balikpapan, Sutadi, mengingatkan masyarakat agar tidak gegabah dalam menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Ia menegaskan, satu kabar keliru bisa merusak kepercayaan, menghancurkan citra komunitas, bahkan memicu gesekan sosial.

“Di era digital, informasi menyebar begitu cepat. Satu klik bisa berdampak luas bagi masyarakat. Karena itu, masyarakat harus benar-benar cermat sebelum membagikan informasi,” ujarnya, Senin (08/09).

Menurut Sutadi, tingkat literasi digital masyarakat menjadi benteng utama menghadapi derasnya arus informasi di media sosial maupun grup percakapan. Tanpa sikap kritis, kabar yang salah bisa dianggap benar dan langsung tersebar ke banyak orang.

“Kita harus biasakan diri melakukan verifikasi. Pastikan dulu sumbernya valid, gunakan jalur klarifikasi resmi. Jangan mudah percaya hanya karena banyak yang membagikan,” jelasnya.

Sutadi mengingatkan kerusakan yang ditimbulkan oleh informasi keliru tidak bisa dianggap sepele. Ia mencontohkan kasus-kasus di beberapa daerah yang berawal dari kabar hoaks. Lalu berkembang menjadi konflik horizontal di tengah masyarakat.

“Cukup satu isu yang tidak terkonfirmasi, kepercayaan warga bisa runtuh. Bahkan, hubungan sosial yang tadinya harmonis bisa retak hanya gara-gara berita yang salah,” lanjutnya.

Pemerintah Kota Balikpapan, lanjut Sutadi, terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat melalui program literasi digital. Edukasi dilakukan dengan melibatkan tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, hingga komunitas anak muda.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Semua pihak harus ikut berperan, baik keluarga, sekolah, maupun organisasi masyarakat. Literasi digital bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama,” katanya.

Sutadi juga meminta masyarakat lebih bijak memanfaatkan teknologi. Media sosial seharusnya menjadi ruang berbagi informasi positif, bukan tempat penyebaran isu yang bisa memecah belah. Dengan sikap kritis dan kebiasaan memverifikasi, dirinya optimistis masyarakat Balikpapan mampu mencegah penyebaran hoaks.

“Kalau ragu, lebih baik jangan dibagikan. Prinsip kehati-hatian jauh lebih baik daripada menyesal setelah tahu informasi itu ternyata salah,” tuturnya lagi.

Sutadi berharap, kesadaran ini bisa tumbuh menjadi budaya digital sehat yang memperkuat kepercayaan publik. “Yang kita jaga bukan hanya nama baik pribadi, tapi juga keharmonisan kota dan komunitas. Jangan biarkan informasi keliru merusak persatuan kita,” pungkasnya. (man)