DP3AKB Perkuat Sekolah Aman Anak

Balikpapan – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Balikpapan terus berupaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman. Salah satunya dengan menggelar In House Training (IHT) bertema “Sekolah Ruang Aman untuk Anak”. Kegiatan ini menegaskan komitmen sekolah untuk memastikan anak tumbuh, belajar dan berekspresi tanpa rasa takut.

Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Balikpapan, Nursyamsiarni D. Larose mengatakan sekolah wajib berdiri sebagai zona aman yang melindungi setiap peserta didik. Khususnya dari potensi kekerasan, diskriminasi maupun tekanan psikologis.

“Kami mendorong sekolah memperkuat sistem perlindungan anak. Karena setiap anak berhak tumbuh, belajar dan berekspresi dengan nyaman serta menyenangkan. Jangan sampai sekolah malah tertekan dan depresi,” ujarnya, Rabu (12/11).

Nursyamsiarni menjelaskan sekolah memiliki peran strategis sebagai garda terdepan perlindungan anak. Maka para peserta IHT harus memahami lebih jauh cara menangani dan mencegah potensi kekerasan di lingkungan sekolah. Fasilitator memaparkan langkah-langkah identifikasi, pendekatan komunikasi dengan siswa hingga penanganan kasus yang berorientasi pada pemulihan.

“Kami ingin para guru aktif menciptakan pembelajaran yang aman, inklusif dan ramah anak. Kami paham tugas guru itu ternyata berat. Mereka bukan hanya mengajar tapi juga pendamping bagi perkembangan siswa,” jelasnya.

Menurut Nursyamsiarni, pihaknya juga mengingatkan pentingnya sistem pelaporan yang mudah diakses, keterlibatan orang tua dan peningkatan literasi perlindungan anak. Di mana semua pihak dari kalangan guru, staf sekolah dan orang tua harus bersinergi. Yakni untuk menyusun rencana aksi yang bisa diterapkan langsung di sekolah masing-masing.

“Kami minta sekolah aktif menata ulang budaya internal. Agar anak merasa aman untuk menyampaikan pendapat, bertanya atau melaporkan masalah. Sudah banyak kasus depresi, bullying hingga ada yang bunuh diri. Ini kan sinyal bahaya,” tuturnya lagi.

Nursyamsiarni menyebut pola kekerasan di lingkungan pendidikan cenderung muncul ketika sekolah belum memiliki mekanisme pengawasan dan pencegahan yang kuat. Karena itu, kegiatan IHT bertujuan membangun kesadaran kolektif proses belajar tidak hanya berfokus pada akademik. Namun juga pada keamanan emosional dan fisik siswa. (man)