Cegah Bencana, BPBD Soroti Kewaspadaan Warga
Balikpapan – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan menyayangkan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam memerhatikan kondisi tanah di sekitar tempat tinggal. Banyak warga mengabaikan tanda awal pergerakan tanah. Seperti retakan kecil di halaman, penurunan permukaan tanah, hingga perubahan kontur di sekitar rumah.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Balikpapan, Bambang Subagya menilai gejala tersebut tidak boleh dianggap remeh karena dapat berkembang menjadi potensi longsor. Terutama pada musim hujan. BPBD mencatat dua wilayah yang saat ini perlu mendapatkan perhatian khusus. Yaitu Telagasari dan Prapatan. Dua lokasi tersebut memiliki karakteristik geografis berbukit dan berada di dataran curam.
“Jika ditemukan retakan di tanah atau tembok, jangan dianggap enteng. Segera lakukan penanganan atau laporkan ke BPBD agar bisa dicek lebih lanjut. Kondisi tersebut berpotensi rentan pergerakan tanah ketika intensitas hujan meningkat,” ujarnya, Ahad (23/11).
Bambang menjelaskan BPBD telah memetakan titik rawan dan menempatkan Telagasari serta Prapatan sebagai zona prioritas pengawasan. Petugas rutin melakukan assessment lapangan untuk memastikan kondisi tanah tetap stabil. Di sisi lain, warga harus lebih cepat mengenali perubahan di sekitar rumah,
“Kami melakukan pemantauan di dua wilayah itu karena topografinya sangat riskan. Begitu hujan deras mengguyur, tanah di kawasan perbukitan lebih mudah bergerak Retakan kecil itu indikator pergerakan tanah. Kalau gejala itu dibiarkan ya berbahaya,” jelasnya.
Menurut Bambang, masyarakat sering menganggap retakan kecil sebagai hal biasa. Padahal, retakan merupakan gejala awal yang menunjukkan struktur tanah sedang mengalami perubahan. Jika tidak ditangani, retakan bisa melebar dan memicu longsor dalam waktu singkat. Khususnya pada musim hujan seperti sekarang.
“Kami bisa melakukan pengecekan langsung dan memberi rekomendasi teknis jika laporan masuk lebih awal. Masyarakat harus berperan aktif. Mereka harus waspada perubahan kemiringan tanah, pintu yang mulai sulit ditutup, hingga dinding yang terlihat miring,” tuturnya.
Selama ini, tambah Bambang, sebagian besar laporan yang masuk ke BPBD berasal dari warga yang sudah melihat kerusakan besar. Untuk itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak menunggu kondisi memburuk sebelum melapor. Respons cepat dapat mencegah bencana yang lebih besar.
“Kami terus edukasi soal pergerakan tanah. Sosialisasi juga aktif lewat RT, sekolah hingga komunitas warga. Kami ingin masyarakat memahami bahwa mitigasi tidak hanya tugas pemerintah. Semua pihak wajib ikut menjaga lingkungannya,” tambahnya. (ibn)
