Pemkot Siapkan Penanggulangan Bencana Holistik

Balikpapan – Pemerintah Kota Balikpapan memperluas pendekatan penanggulangan bencana dengan memperkuat dukungan psikologis bagi korban, khususnya perempuan dan anak. BPBD Balikpapan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) terus bersinergi dalam program trauma healing sebagai langkah pemulihan yang lebih komprehensif.

Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali mengatakan sinergi ini merupakan kebutuhan masyarakat yang tidak hanya memerlukan bantuan fisik setelah bencana. Tetapi juga pendampingan mental yang berkelanjutan. Balikpapan, sebagai kota dengan potensi bencana hidrometeorologi memerlukan sistem pemulihan yang memperhatikan seluruh aspek kehidupan warga terdampak.

“Kami melihat bahwa trauma pascabencana sering kali berdampak jangka panjang, terutama bagi perempuan dan anak. Karena itu, kami bekerja sama dengan DP3AKB untuk memastikan dukungan psikologis hadir di setiap penanganan bencana,” ujarnya, Senin (10/11).

Usman menjelaskan BPBD tidak hanya mengerahkan personel untuk menangani keselamatan fisik dan evakuasi. Tetapi juga memastikan korban mendapatkan ruang aman untuk memulihkan diri secara emosional. Hal ini menunjukkan pendekatan holistik akan mempercepat pemulihan korban dan mengurangi risiko gangguan psikologis yang berkepanjangan.

Dalam sinergi ini, lanjut Usman, DP3AKB menghadirkan psikolog, konselor keluarga dan tenaga pendamping untuk menangani trauma pada perempuan dan anak. Karena mereka yang sering kali menjadi kelompok paling rentan ketika bencana terjadi. Maka pihak DP3AKB yang bergerak langsung di lokasi pengungsian maupun posko layanan cepat.

“Pendekatan ini kami lakukan untuk memastikan tidak ada korban yang merasa sendirian. Kami memberikan dukungan emosional, ruang bercerita, hingga terapi bermain bagi anak-anak,” jelasnya.

Menurut Usman, trauma healing bukan kegiatan sekali datang tapi rangkaian proses yang membutuhkan kesinambungan dan profesionalitas. Karena itu, kehadiran DP3AKB sangat penting dalam mengisi kekurangan di sektor pelayanan psikologis. Karena itu, BPBD melihat kebutuhan psikologis korban tidak kalah penting dibanding bantuan logistik, hunian, atau penanganan kerusakan infrastruktur.

“Penanggulangan bencana tidak boleh hanya fokus pada bangunan dan jaringan kota. Kita juga harus memastikan mental korban tetap kuat dan stabil. Pemulihan yang manusiawi menjadi prioritas kami,” tuturnya lagi.

Usman menambahkan seluruh perangkat daerah mendukung penuh upaya peningkatan kapasitas pendampingan pasca bencana. Di mana melalui penguatan kolaborasi ini, Pemerintah Kota Balikpapan berharap seluruh korban bencana dapat menerima pendampingan yang menyeluruh, aman dan berkelanjutan. (man)