BPBD Libatkan DP3AKB Dalam Recovery

Balikpapan – Pemerintah Kota Balikpapan terus memperkuat layanan perlindungan masyarakat usai bencana melalui kolaborasi lintas instansi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan kini meningkatkan koordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB). Sinergi ini untuk menangani trauma pasca bencana bagi kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan dan lansia.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Balikpapan, Arsulul Chairi mengatakan kerja sama tersebut menjadi kebutuhan mendesak. Mengingat dampak psikologis pasca bencana kerap luput dari perhatian masyarakat. Kedua pihak mengembangkan skema pendampingan psikososial yang mencakup asesmen kondisi mental korban, konseling hingga pemulihan berbasis komunitas.

“Kami memperkuat koordinasi dengan DP3AKB karena penanganan bencana tidak berhenti setelah evakuasi dan pemulihan fisik selesai. Korban sering menghadapi trauma, dan kondisi ini harus kami tangani dengan serius,” ujarnya, Jumat (22/11).

Arsulul menjelaskan Pemerintah ingin memastikan seluruh korban bencana memperoleh dukungan emosional yang tepat. Karena trauma pasca bencana dapat memengaruhi produktivitas, kesehatan mental hingga interaksi sosial. Oleh karena itu, ia menilai kolaborasi dengan DP3AKB sebagai langkah strategis untuk memberi ruang pemulihan lebih menyeluruh.

“Kami melakukan asesmen langsung di lokasi terdampak. Lalu pihak DP3AKB melanjutkan pendampingan setiap korban. Kami memperhatikan gejala-gejala seperti kecemasan, ketakutan, kesedihan dan gangguan tidur,” jelasnya.

Arsulul menilai penguatan koordinasi antar instansi merupakan kunci keberhasilan penanganan pasca bencana. BPBD mengoordinasikan teknis lapangan, sementara DP3AKB memperkuat aspek psikologis dan perlindungan sosial. Ke depan, pihaknya berencana menyusun modul pendampingan psikososial khusus bencana di Balikpapan.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Setiap instansi memiliki peran berbeda. Kolaborasi ini memastikan layanan bagi korban berjalan lebih cepat dan tepat. Kami ingin masyarakat ikut terlibat. Penanganan awal dari lingkungan sekitar sangat membantu proses pemulihan,” tuturnya.

Arsulul menempatkan kelompok rentan sebagai prioritas utama. Pada anak-anak sering mengalami trauma mendalam karena belum mampu memproses kejadian bencana secara emosional. Sementara bagi perempuan dan lansia, pemerintah memberikan pendekatan berbeda sesuai kebutuhan mereka. Pendampingan dilakukan dengan melibatkan tenaga psikolog, pekerja sosial dan relawan terlatih. (man)