Dinkes Dorong SPPG Rekrut Tenaga Non-ASN
Balikpapan – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan mengakui keterbatasan tenaga ahli gizi dan petugas kesehatan lingkungan (Kesling) masih menjadi tantangan utama. Khususnya dalam pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Padahal, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mewajibkan setiap Satuan Penyedia Porsi Gizi (SPPG) memiliki dua tenaga penting tersebut untuk memastikan keamanan dan mutu makanan yang disalurkan ke peserta didik.
Kepala Dinas Kesehatan Balikpapan, Alwiati mengatakan, kondisi ini perlu segera diatasi agar pelaksanaan program MBG berjalan sesuai standar nasional. Ia menegaskan keberadaan tenaga ahli gizi dan Kesling menjadi elemen kunci dalam memastikan makanan yang diterima siswa aman, bergizi dan sesuai kebutuhan tubuh.
“Kami memang menghadapi keterbatasan tenaga ahli gizi dan Kesling di lapangan. Padahal, peran mereka sangat vital dalam pengawasan dan perencanaan menu makanan yang layak konsumsi,” ujarnya, Selasa (11/11).
Menurut Alwiati, Balikpapan saat ini belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan tenaga ahli karena keterbatasan formasi dan rekrutmen aparatur sipil negara (ASN) di bidang kesehatan. Untuk mengatasi hal tersebut, Dinkes mendorong pengelola SPPG berinovasi dengan menggandeng pihak luar yang memiliki kompetensi di bidangnya.
“Kami meminta agar pengelola SPPG berkoordinasi dengan organisasi profesi seperti Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) dan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan (Hakli) untuk merekrut tenaga non-ASN yang memiliki Surat Izin Praktik (SIP),” jelasnya.
Langkah ini, lanjut Alwiati, diharapkan menjadi solusi jangka pendek yang mampu menjaga kualitas pelayanan tanpa mengabaikan aspek profesionalitas dan keselamatan pangan. Ia menilai, tenaga non-ASN dengan izin praktik resmi tetap dapat menjalankan fungsi pengawasan dan edukasi sesuai regulasi Kemenkes.
“Yang terpenting, mereka memenuhi syarat profesional dan memiliki izin praktik resmi. Kami ingin seluruh proses tetap sesuai ketentuan dan menjamin kualitas makanan bagi anak-anak,” tuturnya lagi.
Ke depan, tambah Alwiati, Dinkes juga berencana mengajukan tambahan formasi tenaga kesehatan dalam rekrutmen ASN dan PPPK. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan SDM kesehatan sesuai standar nasional.
“Kami terus evaluasi dan menyiapkan skema jangka panjang. Kesehatan anak-anak Balikpapan tidak boleh dikorbankan hanya karena keterbatasan tenaga. Maka kita perlu memastikan setiap SPPG di Balikpapan memiliki pendamping ahli gizi dan Kesling,” tambahnya. (man)
