Komisi II DPRD Sebut Air IPA Layak Konsumsi
Balikpapan – Komisi II DPRD Kota Balikpapan menyampaikan hasil kunjungan Instalasi Pengolahan Air (IPA) milik Perumda Tirta Manuntung (PTMB). Hal ini untuk memastikan kualitas layanan distribusi air kepada publik. Di mana langkah ini menjadi prioritas utama guna menjamin kesehatan warga kota minyak melalui ketersediaan air bersih yang bermutu.
Ketua Komisi II DPRD Balikpapan, Fauzi Adi Firmansyah mengatakan secara umum tidak ada tahapan yang terlewat dalam memproduksi air bagi ribuan pelanggan. Namun pihak DPRD memberikan perhatian khusus pada kepatuhan regulasi terbaru. Khususnya pada standar kualitas air yang tidak boleh sekadar bersih secara visual. Pengelola wajib mengikuti parameter ketat yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat demi keamanan jangka panjang.
“Kami memastikan proses pengolahan air di IPA ini telah sesuai dengan standar Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023. Ini adalah acuan terbaru yang wajib dipenuhi oleh penyedia air bersih,” ujarnya, Selasa (14/04).
Selama peninjauan, lanjut Fauzi, tim Komisi II mengamati langsung hasil akhir air sebelum masuk ke jaringan distribusi. Mereka melihat air yang mengalir keluar dari sistem pengolahan memiliki tingkat kejernihan yang tinggi. Tidak ada perubahan warna atau residu yang tertinggal dalam sampel air tersebut. Bahkan sistem filtrasi bekerja sangat efektif menghilangkan bau yang biasanya muncul pada air baku.
“Ini menunjukkan efisiensi penggunaan bahan kimia pengolah air yang tepat sasaran. Hasilnya memuaskan. Air yang dihasilkan IPA ini terbukti jernih dan sama sekali tidak berbau. Masyarakat bisa merasa aman menggunakan air ini setiap hari,” lanjutnya.
Menurut Fauzi transparansi hasil pengolahan air adalah hak masyarakat. Komisi II mendorong pengelola IPA untuk terus melakukan uji laboratorium secara berkala dan terbuka. Data kualitas air harus selalu sinkron dengan standar Permenkes untuk menghindari risiko penyakit menular lewat air.
Di sisi lain, Fauzi mengingatkan agar pengelola terus melakukan perawatan rutin pada unit produksi. Ia tidak ingin kualitas air menurun akibat adanya kerusakan alat atau kotoran yang mengendap terlalu lama di bak penampungan. Perawatan preventif menjadi kunci stabilitas layanan di Balikpapan.
“Kami akan terus memantau. Jangan sampai standar yang sudah bagus ini menurun di kemudian hari. Kepentingan warga adalah yang utama,” tambahnya. (man)
