Pendataan Awal Hewan Kurban di Sangatta, Lebih 600 Sapi dan Kambing Dinyatakan Laik Kurban

Kutai Timur – Jelang Hari Raya Idul Adha atau yang biasa disebut sebagai hari raya kurban tahun ini, Dinas Pertanian Kutai Timur (Kutim) melakukan razia dan pengecekan terhadap sejumlah tempat penjualan hewan kurban, sapi dan kambing yang ada di wilayah Sangatta dan sekitarnya. Dalam proses pemeriksaan yang dilaksanakan sejak tanggal 21-22 Juli 2020, pada 22 tempat penjualan hewan kurban di kota Sangatta dan sekitarnya, sebanyak 697 ekor sapi dan 607 ekor kambing dinyatakan sehat dan laik kurban. Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kutim, Sugiono di ruang kerjanya, Rabu (22/7) kemarin.

Didampingi Kepala Bidang (Kabid) Peternakan, Mardi Suaibman serta Kasi Kesehatan Hewan dan Kesmavet dokter hewan Cut Meutia, disebutkan jika dari hasil pemeriksaan pada 22 tempat atau lokasi penjualan hewan kurban yang ada di kota Sangatta dan sekitarnya, ada sebanyak 697 ekor sapi dan 607 ekor kambing, dinyatakan sehat dan laik kurban.

“Dari pemeriksaan yang dilakukan tim kesehatan hewan Dinas Pertanian Kutai Timur, pada 22 tempat penjualan hewan kurban yang ada di Sangatta dan sekitarnya, terdata sebanyak 697 okor sapi dan 607 ekor kambing dinyatakan sehat dan laik untuk dikurbankan. Jadi masyarakat yang ingin melaksanakan ibadah kurban tahun ini dan ingin membeli hewan kurban, kami sarankan untuk membeli hewan kurban pada tempat-tempat yang memang sudah dilakukan pengecekan oleh tim kesehatan Dintan (Dinas Pertanian, red) Kutim dan mendapatkan label sehat,” ujar Sugiono.

Ditambahkan Mardi, memang data yang disuguhkan saat ini bukanlah data hewan kurban secara global sebagai data hewan kurban di Kutim. Sebab, data keseluruhan baru akan terekap usai pelaksanaan hari raya kurban, dengan menunggu laporan pendataan kurban dari setiap kecamatan. Pemeriksaan hewan kurban ini juga akan terus berlanjut, sehingga tidak hanya di wilayah Sangatta, tetapi juga termasuk di Kecamatan Sangatta Selatan dan kecamatan Teluk Pandan. Jika bercermin dari data hewan kurban di Kutim di tahun 2019, jumlah hewan kurban di Kutim mencapai 1.492 ekor, baik sapi dan kambing. Sementara untuk data sementara, jumlah hewan kurban belum mencapai setengahnya.

“Data ini (hewan kurban, red) baru sementara dan bukan keseluruhan di Kutim. Jadi hanya untuk Kota Sangatta dan wilayah sekitarnya. Sementara untuk data keseluruhannya, baru akan kami rilis setelah Idul Adha, menunggu laporan dan rekapan dari masing-masing kecamatan di Kutim. Pemeriksaan juga tidak hanya pada 22 tempat penjualan hewan kurban ini saja, tetapi akan berlanjut ke tempat penjualan lainnya, khususnya di Kecamatan Sangatta Selatan dan Kecamatan Teluk Pandan. Jadi tidak hanya di wilayah Sangatta saja. Sementara untuk kecamatan lainya, kami serahkan (pemeriksaan, red) pada petugas Puskeswan (Pusat Kesehatan Hewan, red) di kecamatan. Jika melihat data (hewan kurban, red) sementara, jumlahnya belum sepauh dari tahun kemarin (2019, red). Karena pada tahun 2019 lalu, jumlah hewan kurban di Kutim mencapai 1.492 ekor. Kita belum tahu, apakah tahun ini akan sama seperti tahun lalu atau bagaimana,” ucap Mardi.

Sementara itu, dokter hewan Cut Meutia selaku Kasi Kesehatan Hewan dan Kesmavet Distan Kutim, menjelaskan jika proses pemeriksaan antemortem atau sebelum hewan kurban di potong. Biasanya, pemeriksaan dilakukan dengan melakukan pengamatan penampakan kondisi fisik hewan. Seperti kondisi pada mata, cuping dan bulu hewan.

“Kita lakukan pemeriksaan (hewan, red) pada fisiknya. Dari mata, apakah bersinar atau tidak. Untuk cuping atau hidung hewan, kita lihat kering atau tidak. Jika cuping dalam kondisi kering, maka hewan diindikasi dalam kondisi demam. Namun jika (cuping, red) basah, maka kondisinya normal. Selain itu juga dipastikan jika kondisi bulu tidak berdiri. Jika memenuhi kriteria (fisik, red) tersebut, maka dipastikan hewan dalam kondisi sehat. Namun usai dilakukan penyembelihan, tim kesehatan hewan akan kembali melakukan pemeriksaan kondisi organ dalam hewan kurban, untuk mengetahui apakah ada infeksi cacing hati atau penyakit lainnya. Pemeriksaan lanjutan ini adalah pemeriksaan postmortem,” jelas Meutia. (ibn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *