Terpapar COVID-19, Keluarga KTM-44 Akui Bingung Tertular dari Siapa

Sangatta (Kutai Timur) – Data perkembangan kasus penanganan Corona Virus Disease 2019 (2019) di Kutai Timur (Kutim), Kamis (18/6), tercatat terjadi penambahan 2 (dua) kasus sembuh COVID-19 dan juga adanya penambahan satu kasus terkonfirmasi positif COVID-19.

Dari laporan Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kaltim, Kamis sore (18/8/2020), yang disampaikan Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Andi M Ishak bahwa dua kasus COVID-19 dari Kutim yang dinyatakan sembuh, yakni KTM-41 dan KTM-42, kedua pasien ini sebenarnya bukanlah warga asli Kutim. Namun merupakan karyawan pada salah satu perusahaan yang beroperasi Kutim dan akan ditempatkan di site Kutim.

“Keduanya (KTM-41 dan KTM-42, red) tiba di Balikpapan pada tanggal 1 Juni 2020. Keduanya merupakan karyawan dari perusahaan swasta yang beroperasi di Kutim dan memang kedatangannya ke Kaltim, untuk ditempatkan di site Kutai Timur. Namun keduanya terjaring swab di Balikpapan dan dinyatakan positif COVID-19, sehingga harus menjalani perawatan isolasi di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB). Kemudian telah dilakukan swab evalusi sebanyak dua kali berturut-turut dan diperoleh hasilnya negative, serta hari ini (Kamis, 18 Juni 2020, red) dinyatakan sembuh,” ujar Andi M Ishak melalui video conference pada aplikasi zoom.

Sementara untuk data penambahan kasus terkonfirmasi COVID-19 di Kutim, hari ini, adalah pasien KTM-44, seorang laki-laki berumur 62 tahun, berdomisili di Kecamatan Teluk Pandan. Pasien yang mengalami stoke hemoragik tersebut saat ini tengah menjalani perawatan intensif di RSUD Taman Husada Bontang, sejak tanggal 15 Juni 2020. Pada tanggal 17 Juni 2020, pasien dilakukan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan dari hasilnya dinyatakan positif COVID-19. “Saat ini pasien KTM-44 tengah menjalani perawatan di RSUD Taman Husada Bontang, dan menggunakan alat ventilator,” jelas Andi.

Namun menurut Kadis Kesehatan Kutim Bahrani Hasanal, dengan dinyatakannya KTM-44 terkonfirmasi COVID-19, cukup membuat keluarga pasien KTM-44 mengaku kebingungan. Sebab, pihak keluarga mengaku jika pasien tidak pernah melakukan perjalanan jauh, hanya seputar Kecamatan Teluk Pandan saja.

“Pada tanggal 12 Juni 2020, pasien (KTM-44, red) bersama istri ada ke Bontang, untuk membeli keramik di Kelurahan Gunung Telihan, Bontang. Kemudian pada 14 Juni 2020 pagi, pasien mengikuti kerja bakti pembentukan kelompok tani di desanya. Warga yang datang adalah warga Desa Suka Rahmat Kecamatan Teluk Pandan dan ada beberapa yang dari Bontang. Selanjutnya, tanggal 14 Juni 2020 sore, pasien masih ke Bontang untuk mengambil batu dari rumah anaknya. Namun di rumah anaknya tersebut tidak ada kontak dengan anggota keluarga di sana,” tutur Bahrani.

Lanjutnya, pada 15 Juni 2020, subuh dini hari, pasien masuk rumah sakit di RSUD Taman Husada Bontang, akibat terserang stroke hemoragik. Saat ini, di rumah pasien hanya ada 3 orang anggota keluarga, yakni istri dan 2 (dua) anak pasien.

“Anak pertama pasien (KTM-44, red) pulang untuk lebaran tanggal 23 Mei 2020 dan pada tanggal 26 Mei 2020 sudah kembali bekerja di Kelurahan Guntung, Bontang dan saat itu belum ada pulang kembali ke rumah. Pada tanggal 15 Juni 2020, si “anak pertama” ini di telpon oleh ibunya atau istri pasien karena mengabarkan jika pasien sudah tidak sadarkan diri, akibat terserang penyakit stroke. Sedangkan anak pasien yang kedua, statusnya masih pelajar kelas VII SMP (Sekolah Menengah Pertama, red) dan tidak melakukan perjalanan ke manapun, hanya bermain di sekitaran rumah saja. Makanya, keluarga pasien mengaku bingung jika pasien dinyatakan terkonfirmasi COVID-19, tertular dari mana,” ujar Bahrani.

Lebih jauh dikatakan Bahrani, saat ini pihaknya tengah melakukan tracing kontak atau mencari tahu, dari mana asal terpaparnya KTM-44 ini. Sebab menurutnya, jangan sampai penularan COVID-19 ini tidak terdeteksi, sehingga bisa menjadi transmisi lokal.

“Kami sedang tracing (COVID-19, red) dari mana penularannya, siapa saja yang sudah atau pernah melakukan kontak dengan pasien (KTM-44, red) selain istri dan kedua anaknya. Jangan sampai nantinya jika tidak terdeteksi, bisa menjadi claster transmisi lokal penularan COVID-19 di Kecamatan Teluk Pandan,” sebut Bahrani. (ibn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *