Dinkes Fokus Perkuat Fungsi Posyandu
Balikpapan – Pemerintah Kota Balikpapan meningkatkan kewaspadaan dan memperluas intervensi kesehatan. Hal itu menyusul hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang menunjukkan prevalensi stunting Kota Balikpapan berada di angka 24,8 persen. Angka tersebut mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan mengambil langkah lebih agresif untuk menekan risiko gagal tumbuh pada anak.
Dinkes Balikpapan merespon data tersebut dengan mengaktifkan program inovatif “Gempur Stunting”. Sebuah gerakan terpadu yang memperkuat fungsi Posyandu di seluruh kelurahan. Kepala Dinas Kesehatan Balikpapan, Alwiati mengatakan program ini menjadi garda terdepan dalam pencegahan stunting sejak dini.
“Kami menjalankan Gempur Stunting sebagai upaya memperkuat kembali peran Posyandu. Kami ingin semua bayi, balita, dan ibu hamil menjalani pemeriksaan lengkap dan teratur. Langkah ini sangat penting untuk mendeteksi dini masalah gizi,” ujarnya, Sabtu (15/11).
Alwiati menyebut penguatan Posyandu menjadi strategi paling efektif karena bersentuhan langsung dengan keluarga. Dinkes memastikan seluruh kader menerima pelatihan. Termasuk penggunaan alat ukur standar dan pencatatan data tumbuh kembang secara digital.
“Kami menyiapkan kader agar mampu memberikan edukasi gizi, memantau tumbuh kembang, dan membantu keluarga memahami pola hidup sehat. Kualitas Posyandu harus meningkat jika kita ingin menurunkan angka stunting,” jelasnya.
Di lapangan, lanjut Alwiati, petugas kesehatan kini melakukan jemput bola bagi keluarga rentan. Tim Gempur Stunting mengunjungi rumah yang mengalami risiko kekurangan gizi, memberikan edukasi pola makan hingga memastikan ibu hamil mendapatkan akses layanan kesehatan.
“Kami tidak menunggu warga datang. Kami yang bergerak mendatangi mereka agar tidak ada anak yang luput dari pemantauan. Makanya perlu sekali sinergi dengan semua pihak. Khususnya RT yang bersentuhan langsung,” lanjutnya.
Menurut Alwiati, Pemkot Balikpapan menargetkan prevalensi stunting terus turun secara bertahap sesuai standar nasional. Dinkes meyakini strategi kolaboratif lewat Posyandu terintegrasi dapat memberikan dampak nyata dalam beberapa tahun ke depan. Di mana melalui strategi yang adaptif dan responsif, kota ini serius memerangi stunting demi mewujudkan generasi masa depan yang sehat dan produktif.
“Kami optimistis mampu menurunkan angka stunting jika gerakan ini terus berjalan konsisten. Ini bukan pekerjaan satu instansi, tetapi komitmen bersama,” tutupnya. (man)
