Balikpapan Perluas Digitalisasi Pariwisata
Balikpapan – Pemerintah Kota Balikpapan terus memperluas penerapan digitalisasi di sektor pariwisata. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi daerah. Salah satunya melalui program sosialisasi dan monitoring elektronifikasi destinasi wisata yang digelar oleh Badan Pengelolaan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (BPPDRD).
Program tersebut bertujuan mempercepat transformasi digital di destinasi wisata. Agar layanan wisata semakin efisien dan menarik minat lebih banyak pengunjung. Kepala BPPDRD Kota Balikpapan, Idham mengatakan elektronifikasi menjadi langkah strategis untuk menciptakan sistem wisata yang terintegrasi dengan teknologi modern.
“Kami ingin destinasi wisata di Balikpapan tidak hanya indah secara fisik, tetapi juga mudah diakses secara digital. Mulai dari informasi, pemesanan tiket, hingga pembayaran, semuanya bisa dilakukan secara online,” ujarnya, Selasa (04/11).
Menurut Idham, penerapan sistem digital di sektor pariwisata memiliki dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Adanya sistem yang terintegrasi, mempermudah wisatawan dalam mencari informasi dan melakukan transaksi. Sementara pelaku usaha di sektor pariwisata dapat mengelola usahanya secara lebih efisien dan transparan.
“Digitalisasi ini membuka peluang besar bagi pelaku ekonomi lokal, termasuk UMKM di sekitar lokasi wisata. Mereka bisa ikut dalam ekosistem digital, baik melalui platform reservasi maupun layanan pembayaran elektronik,” jelasnya.
Selain meningkatkan efisiensi, lanjut Idham, perluasan digitalisasi destinasi wisata juga menjadi bagian dari strategi Balikpapan menuju smart city. Lewat sistem digital, pemerintah dapat memantau data kunjungan, transaksi serta tren wisatawan secara berkala. Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pengembangan pariwisata yang lebih tepat sasaran.
“Kami bisa mengetahui destinasi mana yang paling banyak dikunjungi dan kapan puncak kunjungan terjadi. Dari situ, pengelolaan wisata akan lebih terarah dan berbasis data. Itu jadi rumusan kebijakan pariwisata kota minyak,” tuturnya lagi.
Idham menambahkan elektronifikasi juga memberikan manfaat dari sisi transparansi keuangan daerah. Sistem pembayaran digital akan membantu optimalisasi pendapatan dari sektor retribusi wisata sekaligus menekan potensi kebocoran. Karena setiap transaksi tercatat otomatis.
“Kita ingin memastikan pengelolaan keuangan destinasi wisata lebih akuntabel dan dapat dipertanggungjawabkan. Digitalisasi pariwisata bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga perubahan cara kerja dan peningkatan kualitas layanan,” tutupnya. (man)
