PDAM Inginkan Air Proyek Desalinasi Terjangkau

Balikpapan – Harga jual air hasil desalinasi ke PDAM Tirta Manggar Balikpapan yang dinilai terlampau mahal membuat pemerintah melakukan lelang ulang terhadap proyek tersebut. Mengingat proyek ini menjadi salah satu upaya pemerintah mendapatkan pasokan air baku di samping waduk Manggar yang kapasitasnya terbatas. Untuk itu PDAM kembali melelang proyek desalinasi atau pengolahan air laut menjadi air minum pada akhir tahun ini.

Direktur Umum PDAM Tirta Manggar Balikpapan Haidir Effendi mengatakan pihaknya telah dilakukan penyederhanaan birokrasi sehingga tidak menyulitkan investor khususnya menyangkut persyaratan, Hanya dilakukan penyesuaian administrasi dan koreksai laporan keuangan. Tidak ada perubahan tekhnis secara spesifik.

“Penyederhanaan birokrasi, jadi tidak banyak persyaratan lagi mudah-mudahan sebelum akhir tahun proses ini sudah siap, termasuk persiapan dokumen lelang. Mau gak mau harus kita update karena kemarin dianggap gagal lelang,” ujarnya.

“Dokumen siap, akhir tahun dibuka lelang, mudah-mudahan bisa, kita hanya merubah tanggal dokumennya karena secara spesifika tekhnis tidak berubah lokasi tidak berubah mungkin ada koreksi laporan keuangannya harus audit,”

Proyek jangka panjang hingga 25 tahun dengan nilai investasi mencapai triliunan tersebut dilakukan secara hati-hati. Karena kerjasama yang melibatkan antara Pemerintah, BUMD maupun investor. Investor bangun instalasi yang jual ke publik PDAM.

“Kerjasamanya investor bangun instalasi mereka bikin air, airnya dari air lait tapi kita beli curah. Jadi ketentuan baru siapa pun boleh investasi di air tapi giliran jualnya hanya dibolehkan BUMN atau BUMD karena disitulah kontrol Pemerintah,” ujarnya.

Rencananya di wilayah Stalkuda yang akan dibangun instalasi pengolahannya atau penyulingan air laut ke air minum. “Daerah stalkuda, karena disitu uji sampel airnya sudah ada yang memenuhi standar dan memungkinkan untuk diolah,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, lelang terbuka bagi investor dalam negeri maupun asing. Namun tetap ada kehati-hatian. “Kita terbuka bagis siapapun yang memenuhi syarat. Karena kita kan gak mau investor yang abal-abal. Kita maunya investor bonafit,” ujarnya.

Kata dia, rata-rata investor asing akan kerjasama dengan investor dalam negeri. Karena hingga saat ini belum ada investor dalam negeri memiliki pengalaman. “Pemain lokal juga bisa, yang membuat gagal dipersyaratan administrasinya, sisi penmgalaman,” ujarnya.

Dia menuturkan, sebelumnya bersama Wali Kota Rizal Effendi sempat meninjau desalinasi yang dilakukan perusahaan tambak undang di Kota Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB). Hanya saja secara ekonomi sangat mahal, sulit bagi masyarakat.

“Ada yang dulu saya dibawa Pak Rizal di Lombok yang punya Pak Dahlan Iskan itu kecil yang ditambak udangnya, tapi tekhnologinya mirip-mirip itu sempat ditinjau. Tekhnologinya ada tapi bicara ke ekonomiannya jangan sampai kita jual ke masyarakat tapi masyarakat tidak mampu membelinya, tekhnologinya mahal,” ujarnya.

Dia menambahkan, dalam lelang sebelumnya rata-rata harga jual investor sulit terjangkau masyarakat. “Mereka jual ke kita Rp 15 ribu, itu sangat tinggi sekali Rp 15 ribu itu. Karena deseminasi ini kan ongkosnya mahal, karena biasanya di energy,” ujarnya. (sus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *