Dispustakar Gencarkan Gerakan Literasi
Balikpapan – Pemerintah Kota Balikpapan kembali menegaskan komitmennya untuk membangun budaya literasi di tengah masyarakat. Melalui berbagai program yang digagas Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispustakar), pemerintah berupaya membangkitkan minat baca yang kini kian tergerus oleh dominasi penggunaan gadget.
Kepala Bidang Perpustakaan Dispustakar Balikpapan, Kartini, mengakui rendahnya tingkat literasi bukan hanya terjadi di tingkat nasional juga terasa di daerah. Termasuk di Kota Balikpapan. Ia menilai perubahan gaya hidup masyarakat di era digital menjadi tantangan serius dalam mengembalikan kebiasaan membaca buku.
“Ini memang realitas kita. Pengguna gadget lebih banyak daripada pembaca buku. Tapi kami terus berusaha mengajak masyarakat membaca. Susah memang, tapi tetap kita usahakan,” ujarnya, Rabu (29/10).
Data UNESCO mencatat, minat baca masyarakat Indonesia hanya mencapai 0,001 persen artinya, dari setiap 1.000 orang, hanya satu yang memiliki kebiasaan membaca. Angka ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk bertindak nyata dalam memperkuat fondasi literasi masyarakat.
Kartini menjelaskan, Dispustakar telah menjalankan sejumlah program terobosan literasi. Di antaranya layanan perpustakaan keliling, pojok baca digital, serta kerja sama dengan sekolah dan komunitas literasi. Program tersebut diharapkan mampu menghadirkan akses buku lebih dekat dengan masyarakat, terutama bagi pelajar dan warga di wilayah pinggiran kota.
“Kami turun langsung ke lapangan, ke sekolah, dan ke ruang publik. Kami ingin buku hadir di mana saja, bukan hanya di perpustakaan. Tapi memang itu juga memerlukan animo dari masyarakat. Di situ kelihatan tingkat literasi kita,” katanya.
Selain memperluas akses, lanjut Kartini, pemerintah juga mulai mendorong transformasi perpustakaan digital agar bisa bersaing dengan platform digital populer yang menjadi konsumsi utama masyarakat. Upaya ini dilakukan agar generasi muda tidak hanya sibuk dengan media sosial tapi juga memiliki alternatif positif untuk memperkaya pengetahuan.
“Kami tidak bisa memaksa orang meninggalkan gadget. Jadi kami ubah strategi dengan menyediakan bacaan digital yang mudah diakses. Dengan begitu, membaca tetap bisa dilakukan lewat perangkat mereka,” jelasnya.
Kartini menambahkan, gerakan literasi bukan sekadar soal membaca buku namun juga tentang membangun budaya berpikir kritis dan kreatif. Ia menilai, masyarakat yang gemar membaca akan memiliki daya saing dan kemampuan analisis yang lebih baik di era global. “Kalau masyarakat rajin membaca, mereka akan lebih siap menghadapi perubahan zaman. Literasi itu pondasi pembangunan manusia,” tambahnya. (man)
