54 Ribu Petani Sawit Jadi Penggerak Ekonomi Paser, Bupati: Sawit Penopang Kesejahteraan Daerah
BALIKPAPAN – Sektor perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu pilar utama perekonomian Kabupaten Paser. Selain menyerap puluhan ribu tenaga kerja, komoditas tersebut juga memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sekaligus menjadi penopang kesejahteraan masyarakat di daerah.
Hal itu disampaikan Bupati Paser dr. Fahmi Fadli dalam sambutan yang dibacakan Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten Paser, Djoko Bawono, saat membuka Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), di Balikpapan, Senin (3/8/2026). Pelatihan tersebut berlangsung pada 2–7 Agustus 2026.
Dalam sambutannya, Fahmi menegaskan sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit, memiliki peran strategis dalam mendorong transformasi ekonomi Kabupaten Paser agar tidak lagi bergantung pada sektor pertambangan.
“Sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit, memegang peranan vital dalam transformasi ekonomi ini,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 54 ribu petani sawit di Kabupaten Paser atau sekitar 17 persen dari total 315.033 penduduk. Besarnya jumlah pekebun tersebut menunjukkan bahwa kelapa sawit telah menjadi sumber penghidupan utama masyarakat sekaligus penggerak ekonomi di wilayah pedesaan.
Menurut Fahmi, sektor sawit juga memberikan kontribusi sekitar 8 persen terhadap PDRB Kabupaten Paser. Selain itu, aktivitas perkebunan mampu menyerap sekitar 54 ribu tenaga kerja sehingga berperan besar dalam membuka lapangan pekerjaan dan menekan angka pengangguran.
“Keberadaan kebun-kebun sawit rakyat telah membuka lapangan pekerjaan yang luas dan sangat membantu mengurangi tingkat pengangguran di Kabupaten Paser,” katanya.
Dominasi komoditas sawit juga terlihat dari pemanfaatan lahan perkebunan. Dari total areal perkebunan seluas 198.990,45 hektare, sekitar 92,13 persen merupakan perkebunan kelapa sawit.
Melihat besarnya kontribusi tersebut, Pemerintah Kabupaten Paser terus memperkuat sektor perkebunan melalui berbagai program, di antaranya Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penerbitan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pekebun.
Fahmi menjelaskan, selama periode 2017–2023 pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp210,6 miliar untuk mendukung program PSR. Selain itu, layanan penerbitan STDB diberikan secara gratis dan hingga akhir 2025 telah diterbitkan lebih dari 5.000 STDB bagi petani sawit.
Ia menilai peningkatan produktivitas perkebunan tidak cukup hanya melalui dukungan anggaran, tetapi juga harus diiringi peningkatan kompetensi petani. Karena itu, pemerintah daerah menyambut baik pelatihan teknis budidaya yang diikuti 298 petani sawit sebagai upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing perkebunan rakyat.
Dalam kesempatan tersebut, Fahmi juga menyampaikan apresiasi kepada BPDP, Ditjenbun, AKPY, Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur, serta Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) yang terus mendukung pengembangan SDM perkebunan di Kabupaten Paser.
Lebih lanjut, ia mengatakan penguatan sektor perkebunan merupakan bagian dari strategi transformasi ekonomi daerah. Ketergantungan Kabupaten Paser terhadap sektor pertambangan terus berkurang. Jika sebelumnya sektor pertambangan menyumbang sekitar 60–70 persen terhadap perekonomian daerah, pada 2025 kontribusinya menurun menjadi sekitar 54 persen seiring meningkatnya peran sektor nonpertambangan, termasuk perkebunan.
Mengakhiri sambutannya, Fahmi memberikan penghargaan kepada para petani sawit yang dinilainya menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
“Terima kasih. Saudara adalah pejuang sejati penggerak roda ekonomi rakyat,” pungkasnya. (Deb)
