DPRD Minta Pemkot Antisipasi Inflasi
Balikpapan – Lonjakan permintaan kebutuhan pokok memicu tekanan inflasi di Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada Februari 2026. Momentum Ramadan dan persiapan Idul Fitri mengerek mobilitas masyarakat serta konsumsi rumah tangga secara signifikan.
Data Indeks Harga Konsumen (IHK) dari BPS menunjukkan angka yang cukup tinggi. Kota Balikpapan mencatat inflasi sebesar 0,75 persen (month to month). Sementara itu, Kabupaten PPU mengalami kenaikan lebih tinggi mencapai 0,89 persen. Hal itu masih ditambah faktor cuaca yang turut mempengaruhi situasi pasar. Intensitas hujan ternyata berdampak pada jalur distribusi dan hasil produksi pangan lokal di sentra pertanian.
Anggota Komisi II DPRD, Jafar Sidik, meminta pemerintah setempat mengantisipasi fenomena kenaikan harga ini dengan serius. Ia menyarankan pihak terkait tidak lengah dalam mengawasi rantai pasok. Karena langkah mitigasi harus berjalan lebih cepat dari pada lonjakan harga di pasar.
“Pemerintah harus menjamin stok pangan tetap aman dan terjangkau. Jangan biarkan spekulan bermain di tengah tingginya permintaan warga menjelang lebaran. Kan biasa dekat hari raya permintaan tambah naik,” ujarnya, Selasa (03/03).
Jafar mendorong Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk segera menggelar operasi pasar secara masif. Ia menilai, intervensi langsung ke titik-titik keramaian mampu meredam kepanikan konsumen. Langkah ini sekaligus menjaga daya beli masyarakat yang sedang meningkat. Terutama pada komoditas unggulan seperti beras, cabai, bawang dan daging ayam.
“Di sini perlu sekali koordinasi lintas sektor. Pemerintah harus mampu mengamankan ketersediaan komoditas utama. Makanya perlu komunikasi dengan distributor dan mengecek gudang. Agar stok bisa terjaga,” jelasnya.
Menurut Jafar, pengawasan terhadap distributor besar sudah menjadi agenda rutin untuk memastikan tidak ada penimbunan barang. Termasuk pemantauan terhadap pergerakan harga di pasaran. Di sisi lain, sinergi antara Balikpapan dan PPU menjadi kunci untuk menyeimbangkan distribusi pangan di wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Kota kita ini memang bukan produsen. Jadi ada ketergantungan terhadap pasokan daerah lain. Otomatis itu yang membuat harga di pasaran sering naik. Makanya kita perlu penguatan pasokan. Jadi harga tidak melonjak drastis dan memberatkan warga,” tuturnya.
Jafar berharap upaya bersama ini mampu menekan angka inflasi kembali ke level sasaran pada bulan berikutnya. Meski data itu biasa mengalami kenaikan seiring perayaan hari Idul Fitri. Namun kesiapan infrastruktur logistik dan transparansi harga di pasar menjadi benteng utama menghadapi tantangan ekonomi di musim hari raya. (man)
